Artikel Terbaru

Santo Stefanus: Roh Kemartiran di Paroki Cilandak

Santo Stefanus: Roh Kemartiran di Paroki Cilandak
3 (60%) 2 votes

Kisah Para Rasul mengisahkan bagaimana Stefanus diadili oleh Sanhedrin dengan dakwaan menghujat Nabi Musa dan Allah (Kis 6:11) dan berkata-kata menentang Bait Allah dan Hukum Taurat (Kis 6:13-14). Hukuman yang diterimanya adalah dirajam sampai mati oleh sekelompok massa yang marah setelah diprovokasi Saulus dari Tarsus, yang kelak dikenal sebagai Santo Paulus (Kis.8:1).

Khotbah terakhir yang disampaikan Stefanus berupa tudingan terhadap kaum Yahudi, karena telah membunuh nabinabi mereka serta menjadi pembunuh Kristus (Kis 7:52).

Orang-orang yang marah itu lalu menghalau dia ke luar kota dan melemparinya dengan batu. Tetapi, Santo Stefanus mengampuni para pembunuhnya itu sambil berdoa, “Ya Bapa, janganlah tanggungkan dosa ini atas mereka. Ya Tuhan Yesus terimalah rohku.”

Menjelang ajalnya, Stefanus mengalami suatu teofani atau penampakan Allah. Teofani yang dialaminya bersifat unik, karena ia menyaksikan baik Allah Bapa maupun Allah Putra. “Aku melihat langit terbuka, dan Anak Manusia duduk di sebelah kanan Allah”(Kis 7:56). Stefanus mati sebagai martir kira-kira pada tahun 34.

Tantangan pewartaan
Sesudah Misa pada 30 Oktober 1977 diadakan pertemuan antara Pastor Mark Fortner SCJ dengan semua ketua wilayah atau lingkungan dan tokoh-tokoh umat sewilayah Paroki Cilandak. Pertemuan itu menghasilkan terbentuknya tiga formatur yang bertugas menyusun Pengurus Gereja dan Dana Papa (PGDP).

Dalam penyusunan formatur tersebut juga diajukan sepuluh nama calon Pelindung Paroki Cilandak. Di antaranya adalah St Stefanus, yang kemudian dipilih Uskup Agung Jakarta Mgr Leo Soekoto SJ sebagai Pelindung Paroki Cilandak.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*