Artikel Terbaru

Pacaran yang Sehat

Pacaran yang Sehat
1 (20%) 1 vote

Memang perlu diluruskan pemahaman tentang pacaran agar tidak sesat dalam menempuh jalannya. Pacaran adalah sebuah tugas perkembangan yang memang perlu dilalui oleh seorang remaja. Dalam pandangan Erikson, seorang ahli psikologi perkembangan, remaja perlu belajar mengenal lawan jenisnya, yang tentu saja tujuannya untuk memperluas pergaulan dan juga untuk mengembangkan pribadinya guna persiapan memasuki masa dewasa.

Dengan berpacaran, mereka akan belajar bagaimana membentuk komitmen dan juga membangun tanggung jawab pribadi.

Pacaran pada hakikatnya adalah proses untuk saling mengenal. Berpacaran adalah proses seseorang belajar give and take, belajar saling memberi dan menerima, serta memegang tanggung jawab. Tentu saja berbagai proses akan mereka tempuh hingga terbentuklah pemahaman yang berisi ‘saling’. Hal inilah yang tak jarang tidak dipahami banyak remaja.

Bagi mereka, pacaran adalah proses bersenang-senang dan proses untuk bisa diterima sebagai pribadi yang dewasa, untuk masuk dalam dunia orang dewasa termasuk di dalamnya mengenal seks. Inilah yang tidak terkomunikasikan antara remaja itu sendiri dan tentu saja orangtua atau bahkan guru sekalipun.

Bagaimana kemudian kita mendeteksi apakah pacaran kita cukup sehat atau tidak sehat? Berikut ini mari kita coba refleksikan:

• Berpacaran adalah proses yang saling mendewasakan. Tentu saja proses ini tidak akan pernah berjalan mulus, rasa cemburu, rasa ingin memiliki tak jarang membuat seseorang menjadi begitu over protective sehingga terjadi berbagai bentuk pelarangan. Semua ini akan dialami oleh para remaja tersebut hingga mereka menyadari bahwa pacaran bukanlah sesuatu yang mudah dijalani. Jika kemudian arahnya adalah kemampuan mengelola diri, memunculkan rasa tanggung jawab dan kemandirian maka pacaran telah cukup mendewasakan kita. Dalam berpacaran juga akan tumbuh rasa trust, saling ercaya yang memberikan ruang gerak dan kebebasan untuk bereksplorasi dan mendewasakan diri. Jika yang terjadi sebaliknya, sesuatu yang membuat kita merasa terkungkung, terbatasi ruang gerak dan kebebasan bahkan membatasi diri kita sendiri, maka itu bukanlah pacaran yang mendewasakan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*