Artikel Terbaru

Pacaran yang Sehat

Pacaran yang Sehat
1 (20%) 1 vote

• Berpacaran adalah proses belajar untuk menghormati dan menghargai pasangan. Inilah yang menjadi kunci jawaban terhadap eksplorasi tentang seks. Bagi sebagian besar remaja, memberikan keperawanan dan keperjakaan kepada pasangan adalah sebuah bentuk pengorbanan dan perwujudan cinta. Namun, ini adalah sebuah bentuk nafsu yang dibalut dengan keinginan bawah sadar atau justru yang disadari untuk memanipulasi pasangan. Kenyataan inilah yang membungkamkan para orangtua dan para guru bahwa penelitian menunjukkan berapa banyak remaja dari SMP hingga SMA yang telah kehilangan keperawanan dan keperjakaan mereka. Pacaran menjadi media untuk bersama-sama belajar tentang seks dalam arti yang sesungguhnya sehingga yang muncul adalah kebanggaan karena telah selangkah lebih maju dibanding teman sebayanya. Tentu saja ini adalah pandangan yang salah. Pacaran yang menuntut hubungan badan atau sexual intercourse adalah sebuah kesalahan besar. Jika pasangan kita menuntut hal seperti ini maka ia hanya ingin memanfaatkan kita dan di dalamnya tidak ada penghormatan apalagi penghargaan.

• Berpacaran adalah proses yang membebaskan. Tak jarang rasa cinta yang begitu dalam justru membuat seseorang merasa begitu tercekam oleh rasa itu. Rasa ini kemudian dimaknai sebagai sebuah cinta yang mendalam dan tidak ada duanya. Namun, yang terjadi tak jarang justru terhambatnya rasionalitas dan objektivitas dalam berpikir dan bertindak. Rasa cinta yang begitu mecekam pada akhirnya hanya akan membuat diri sendiri tidak bisa berkutik dan bebas bereksplorasi. Rasa takut kehilangan, rasa ingin diperhatikan, dan rasa ingin selalu bertemu menjadi sebuah obsesi yang tiada ujung. Inilah yang membuat kita menjadi tidak terbebaskan karena terus-menerus dicekam oleh rasa ini. Kebebasan untuk mencintai dan mewujudkan cinta, yang bisa kita maknai sebagai cinta yang membebaskan. Pada dasarnya mencintai seseorang berarti juga memberi kesempatan bagi diri sendiri dan orang yang kita cintai untuk bebas, baik dalam bergaul maupun beraktivitas tanpa banyak kekhawatiran akan kekangan dan batasan untuk bertemu, untuk selalu merespons segala bentuk perhatian sekecil apa pun. Berpacaran adalah proses yang memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk lebih mengeksplorasi semua kemampuan yang dimiliki yang didasari oleh kebutuhan untuk mengembangkan diri dan membebaskan diri untuk mencari jatidiri.

• Berpacaran adalah proses untuk saling mengenal. Pacaran adalah proses bagi seseorang untuk mendalami bibit, bebet, dan bobot orang yang bersangkutan, menyamakan sikap dan pandangan, mencari titik temu dari berbagai perbedaan yang ada, serta kesediaan untuk menerima segala kekurangan yang dimiliki. Dalam berpacaran juga ada makna bahwa ada penerimaan tanpa banyak syarat dan tuntutan terhadap pasangan untuk mengubah dirinya sendiri dan menjadi orang lain. Tentu saja ini tidak sehat karena mengubah diri sendiri hanya untuk menyenangkan pihak lain, bukanlah sebuah proses yang sehat. Yang terjadi adalah proses pembungkaman terhadap identitas diri dan pertumbuhan diri. Jika dalam masa tersebut ada ketidakcocokan yang mengakibatkan perpisahan, maka baiknya ini dimaknai sebagai sebuah proses yang tidak perlu disesali. Yang terpenting adalah perpisahan tersebut diputuskan bersama, dengan tanpa banyak meninggalkan luka atau bahkan trauma. Namun, yang sering terjadi adalah luka yang menimbulkan kebencian karena tidak dilakukan secara elegan dan fair.

• Pada akhirnya, jodoh ada di tangan Tuhan. Pacaran adalah sebuah proses, bukanlah tujuan akhir dari sebuah relasi. Memberi dan menerima, belajar dan melatih diri untuk menjadi lebih dewasa adalah esensi dari hubungan itu sendiri. Menunjukkan kepercayaan dan tanggung jawab kepada orangtua akan memberikan keyakinan kepada orangtua kita sendiri bahwa kita sudah siap untuk dipercaya dan pasangan kita juga bisa dipercaya. Namun, jika kita tidak mampu membuktikan kepercayaan tersebut, jangan pernah menyesal bahwa sampai kapan pun akan sulit buat orangtua kita memberikan kepercayaan kepada diri kita. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga.

Th. Dewi Setyorini

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 15 Tanggal 11 April 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*