Artikel Terbaru

Sebentar Lagi KPP Tinggal Memori

Sebentar Lagi KPP Tinggal Memori
1 (20%) 1 vote

Bicara soal kaderisasi, Paroki St Alfonsus Rodriquez Pademangan terbilang apes. Tim pengajar KPP parokinya kini tinggal dua orang, bersama pasangannya masing-masing, ditambah Romo Paroki. “Sebelumnya tiga, tapi baru-baru ini berpulang satu. Itu pun tenaga pengajar kita sudah tua. Kita agak kewalahan soal kaderisasi,” ujar Ketua SKK Pademangan, Alexander Budyanto Wijaya.

Jadi MRT
Berapa pun banyaknya tim pengajar KPP yang dimiliki Paroki atau Dekanat, yang diutamakan adalah cara penyampaian. Di Paroki BSD, penyajian materi selama dua hari kursus selalu berujung dengan refleksi sendiri dan berpasangan. Refleksi sendiri bertujuan agar peserta bisa menginternalisasikan materi yang sudah diberikan. “Sementara refleksi berpasangan bertujuan agar para calon keluarga Katolik saling mengenal dan merancang komitmen bersama,” kata Sugiarto.

Sementara Tina menceritakan, selama ini metode yang ia gunakan adalah diskusi dan sharing. Saat memaparkan bahan KPP kepada para peserta, ia selalu menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban dari para peserta. Hal ini membantu agar para peserta mau terlibat. Pengalamannya sebagai konselor keluarga di Paroki Cempaka Putih membantunya untuk mengimbangi bahan ajar dengan contoh-contoh kasus yang nyata. “Misal, pasangan yang berencana akan tetap bekerja setelah menikah, bagaimana harus mendidik anak, mengatur biaya pendidikan anak dengan penghasilan yang pas-pasan dan sebagainya,” kata Tina.

Sebentar lagi, KPP akan berganti nama menjadi Membangun Rumah Tangga (MRT). Menanggapi hal ini, Tina berharap agar metode dua arah ditingkatkan dan diterapkan di semua Paroki KAJ. Artinya, setiap pengajar diharapkan berbagi pengalaman konkret. Astrid pun menimpali, contoh yang disajikan adalah contoh-contoh yang update. “Ini akan membantu keluarga-keluarga muda saat mereka berjumpa dengan masalah yang sama di kemudian hari,” ujarnya.

Sementara komunitas Marriage Encounter (ME) sebagai salah satu komunitas yang selama ini aktif mendampingi keluarga Katolik juga mendukung MRT. Ketua ME Distrik Jakarta, pasutri Pocky-Acu mengatakan, selama ini banyak anggotanya yang ikut menjadi tim pengajar KPP di paroki-paroki. Setelah berganti nama dengan MRT dan mungkin dengan program baru, ME tetap akan ikut mendorong anggotanya terlibat mempersiapkan calon-calon keluarga muda. “Karena bagaimana pun perkembangan Gereja selalu bersumber pada keluarga,” ujar Pocky-Acu via WhatsApp. Saat dihubungi pekan lalu, Pocky-Acu sedang berziarah di Eropa.

Stefanus P. Elu
Laporan: Marchella A. Vieba/Christophorus MariminDok

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 43 Tanggal 23 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*