Artikel Terbaru

Trauma terhadap Mantan Pacar

Trauma terhadap Mantan Pacar
2.5 (50%) 2 votes

Masing-masing, entah secara tunggal ataupun komplikatif, bisa menggerakkan perasaan cemburu buta yang meruyak dalam ekspresi ledakan kemarahan. Namun demikian, kemarahan yang proporsional akibat kecemburuan, dalam bentuk ekspresi emosi yang ”umum” (cemberut, bersikap ketus, ”puasa” bicara sementara, dsb) sangat mungkin justru mengindikasikan bahwa perasaan cinta memang sungguh ada.

Pada beberapa orang yang tengah menjalin relasi pacaran, tiadanya ekspresi kemarahan ”umum” di pihak pasangan yang terkait dengan perasaan cemburu; justru mengindikasikan kondisi hubungan yang mulai hambar.

Nah, sekarang tentang sikap Anda terhadap mantan pacar, sudah tepatkah? Hal ini sangat relatif karena terkait dengan konteks realitas yang Anda alami secara pribadi. Menurut saya, kendatipun Anda merasa traumatis, sebaiknya lakukan ”finishingtouch” relasi Anda dengannya secara wajar dan manusiawi. Berelasi sosial adalah kebutuhan manusiawi yang tak semata berupa relasi bermotif cinta asmara.

Bila perasaan khusus (cinta) memang sudah tidak ada, bersikap asertif tidak salah. Tetapi, tak ada untungnya mengkonservasi rasa dendam. Tak ada salahnya menyempatkan diri bicara empat mata dengan dia. Ungkapkan perasaan Anda yang sebenarnya. Bila khawatir akan kemungkinan terjadinya lagi ledakan kemarahan, mintalah tolong pendampingan orang ketiga yang netral berdasar kesepakatan Anda berdua, atau carilah lokasi pembicaraan di zona publik (rumah makan, café, sekitar kantor).

Dengan cara itu, semoga secara bertahap Anda bisa kembali pada kondisi hidup yang damai, tanpa harus mengabadikan sang mantan pacar sebagai monumen trauma dalam diri Anda.

H.M.E. Widiyatmadi

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 12 Tanggal 21 Maret 2010

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*