Artikel Terbaru

Perihal Perpisahan dalam Katolik

[rwtrend.com]
Perihal Perpisahan dalam Katolik
1 (20%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, saya pisah ranjang dengan suami saya sejak tiga tahun lalu. Suami saya memiliki wanita idaman lain. Kami menikah 15 tahun lalu, dan telah memiliki dua anak. Saya tahu, perkawinan Katolik tidak mengenal kata cerai, tapi saya merasa sia-sia kalau melanjutkan biduk rumah tangga. Bagaimana mengurus prosedur perceraian dalam Gereja? Apakah saya berhak meminta hak asuh anak, serta harta gono-gini? Mohon penjelasan.
Monica Agustina, Banda Aceh

Saudari Monica yang sedang bingung, perceraian bukanlah suatu istilah yang lazim dalam Gereja Katolik, sebab kita mengenal pernikahan sekali untuk selamanya. Bahwa kemudian ada tragedi dalam rumah tangga, itu bukanlah alasan untuk mengizinkan perpisahan. Semoga pengertian dasar ini menjadi pijakan mengurus persoalan dalam rumah tangga Anda.

Perpisahan, dan yang biasa disebut pemutusan ikatan nikah, ditentukan jenis perkawinan kedua pihak yang menikah. Jika pernikahan itu antara dua orang yang dibaptis, maka pernikahan itu adalah sakramen. Jika sakramen ini sudah disempurnakan dengan persetubuhan, menurut Hukum Kanonik (K 1141) tidak dapat diputus kuasa manusiawi mana pun dan atas alasan apa pun, selain kematian. Saya kira Anda perlu memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai jenis perkawinan Anda.

Perpisahan diperbolehkan dalam Gereja Katolik, misalnya jika terjadi perzinahan salah satu pihak yang menikah (K 1152). Diharapkan, pihak yang tak bersalah seperti Anda mengampuni, sebagai bukti dan ungkapan kasih. Tetapi, jika Anda tidak bisa lagi hidup bersama suami Anda karena hal ini, Anda diperbolehkan memisahkan diri (istilahnya: pisah ranjang/pisah meja makan). Alasan lain yang biasa adalah soal keamanan, karena pasangan membahayakan hidup bersama.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*