Artikel Terbaru

Sr Lucia CIJ: Pelayan Mutiara di Pinggir Jalan

Sr Lucia CIJ: Pelayan Mutiara di Pinggir Jalan
3.7 (73.33%) 3 votes

Sayang, hati Ger tak kunjung luluh. Ia belum mau bergabung dengan sesamanya di panti rehabilitasi. Sr Lucia selalu menanti kedatangannya.

Sambil menunggu hari itu tiba, ia tak berhenti merapal nama perempuan pengais bak sampah dalam tiap novenanya. “Saya ingin memberikan pelayanan optimal untuk dia,” ungkap Sr Lucia.

Pada suatu Minggu, Sr Lucia kembali berjumpa dengan Ger. Penampilannya kian lusuh, wajahnya cemong. Mungkin hampir seminggu ia tak menyentuh air. Suasana pada hari itu berbeda dari pekan-pekan sebelumnya. Begitu Sr Lucia menyapa dan merangkul, Ger mengerlingkan mata, tanda setuju tinggal bersama Sr Lucia di panti.

Panti untuk penyandang gangguan jiwa berada di Wairklau. Masyarakat Maumere menyebut hunian itu sebagai tempat tinggal orang-orang gila. Mereka yang tinggal di sana mayoritas ditemukan di jalan. Tentu dengan beragam kisah, seperti Lola di Ende dan Ger di kota berjuluk “Seribu Biara”.

Memasuki Panti St Dymphna, para pengunjung melihat beraneka pemandangan menggelikan bagi kebanyakan orang biasa. Ada penghuni yang menghadap dan mengata-ngatai tembok, seolah menumpahkan kekesalan. Ada yang berteriak. Ada pula yang hanya duduk tanpa kata dengan pandangan kosong ke depan.

Tragedi yang merundung Lola merupakan salah satu pemicu keberadaan mereka di jalan-jalan atau tersembunyi karena dipasung keluarga atau lingkungan sekitar. Sebagai orang beragama, kata Sr Lucia, menampung, merawat, dan merehabilitasi mereka adalah perwujudan iman dan memanusiakan manusia.

Sepuluh Gadis
Soal Panti St Dymphna, pada 2003, sepuluh gadis difabel mendatangi Sr Lucia. Mereka meminta untuk dibangun panti bagi penyandang difabel, entah fisik maupun mental. Semula Sr Lucia pesimis menanggapi permohonan itu. Bagaimana mungkin mendirikan panti tanpa memiliki dana? Sr Lucia berusaha melupakan kejadian itu.

Seiring waktu, suara rengek sepuluh gadis tak juga lekang dari telinga, hati, dan benaknya. Selang beberapa bulan, sepuluh gadis kembali mendatangi Sr Lucia di kantor Yayasan Bina Daya St Vincentius Cabang Sikka. Lagi-lagi mereka meminta kepada ketua yayasan itu untuk menampung dan mengajari aneka keterampilan, seperti menjahit dan memasak.

Sr Lucia CIJ bersama penghuni Panti St Dhymphna, Maumere. [floresbangkit.com/ebed de rosary]
Sr Lucia CIJ bersama penghuni Panti St Dhymphna, Maumere.

[floresbangkit.com/ebed de rosary]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*