Artikel Terbaru

Sr Lucia CIJ: Pelayan Mutiara di Pinggir Jalan

Sr Lucia CIJ: Pelayan Mutiara di Pinggir Jalan
3.7 (73.33%) 3 votes

Kehadiran mereka yang kedua menyentil perasaan dan kesadaran Sr Lucia. Ia berpikir keras untuk mencari solusi. Ia merasa kejadian itu merupakan rahmat demi merealisasikan dan mengembangkan karya tarekatnya. Lebih dari itu, pembangunan panti juga menjadi bagian dari misi Gereja, yaitu berpihak kepada yang lemah dan tersingkir.

Sr Lucia menyakini, simpati tak cukup, harus ada aksi nyata. Ia tak mengelak, ada kekhawatiran untuk mewujudkan misi itu. Namun segala sesuatu bisa terjadi atas izin-Nya. “Bila Allah menghendaki, Dia pasti memberi jalan,” lanjutnya.

Sr Lucia bersama sepuluh gadis bergerak dari satu toko ke toko lain untuk meminta bantuan. Mereka juga masuk keluar kantor pemerintahan agar hunian penyandang difabel yang layak dan ramah segera berdiri. Upaya mereka menjadi viral di masyarakat. Tak sedikit umat yang membantu. “Carilah kamu akan mendapat, ketuklah pintu akan dibukakan bagimu,” ujarnya. Sr Lucia yakin berkat Tuhan selalu menyertai setiap perjuangan mereka untuk kaum miskin dan tersingkir.

Pada 26 Januari 2004, berlangsung peletakan batu pertama pembangunan panti. Tak dipungkiri, pembangunan sempat tertatih-tatih karena kekurangan dana. Tapi Sr Lucia tak menyerah. Lika-liku itu ia pandang sebagai kesempatan untuk lebih giat berusaha. Ia mendekati Dinas Sosial Kabupaten Sikka. Syukurlah permohonannya disetujui.

Dana terkumpul sekitar Rp 13,5 juta. Memang tak masuk akal mendirikan sebuah panti dengan jumlah nominal seperti itu. Namun bagi Tuhan, kata Sr Lucia, tak ada yang mustahil. Tiap hari, Tuhan selalu menambahkan jumlah bantuan, sehingga pada Juni 2004, pembangunan panti pun rampung. Sejak berdiri, sekitar 90 penyandang gangguan jiwa yang ditangani, 47 diantaranya telah sembuh total, kembali ke keluarga, dan berbaur dengan masyarakat.

Mutiara Allah
Keberadaan para penderita gangguan jiwa, diakui Sr Lucia, kerap tak mendapat perhatian serius dari masyarakat, pemerintah, keluarga, bahkan orangtua sendiri. Mereka seringkali disamakan dengan sampah, hal yang menjijikkan dan disingkirkan dalam pergaulan sosial.

Padahal, kata Sr Lucia, mereka sebenarnya adalah mutiara Allah. Karena itu, keberadaan mereka amat berharga. “Ingat, bukan orang sehat
yang membutuhkan tabib, tetapi orang sakit. Tabib itu adalah Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus, yang berpihak kepada mereka yang sakit,” katanya. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” lanjut Sr Lucia mengutip Matius 25:40.

Yuven Fernandez

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 43 Tanggal 23 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*