Artikel Terbaru

Diana Wodon: Malaikat-Malaikat Penolong

Diana Wodon: Malaikat-Malaikat Penolong
1 (20%) 1 vote

Diana tak bisa menyembunyikan rasa iri kepada pasien yang ditemani pasangan hidup, pacar, orangtua, atau keluarganya. Sementara dia berjuang sendirian menghadapi penyakit yang menakutkan. “Saya hanya tertunduk dan menahan isak,” ujar alumna Sekolah Tinggi Theologia Setia Arastamar, Jakarta itu dengan mata berkaca-kaca.

Situasi Getsemani seolah-olah dialami Diana. Dia sendirian menghadapi maut dihadapannya. Sentuhan tangan mendarat di pundaknya ketika air mata masih membahasi pipinya. Sentuhan itu juga membangunkan dia dari lamunan. Begitu mengangkat wajahnya, seorang ibu berhijab memandang dan melempar senyum.

Wajah ibu itu terlihat pucat. Diana menduga, ibu itu pasien, sama sepertinya. Tebakan Diana tepat. Tetapi, mengapa ibu itu masih bisa tersenyum? Sentuhan dan kehadiran sang ibu dirasakan Diana seperti kedatangan malaikat yang memantik semangatnya. Tanpa canggung, Diana mengungkapkan kegundahan yang menerpanya kepada ibu itu.

“Dek, bersyukurlah karena Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit ini. Mungkin ini salah satu cara agar kamu semakin dekat dengan Tuhanmu,” kata Diana, mengenang pendapat sang ibu. Tangis Dian berhenti, ketika ibu itu mengisahkan gering yang dialaminya.

Ibu itu menderita kanker ganas. Belum lama dia menjalani kemoterapi. Pengalaman perempuan paruh baya tersebut seolah mengobarkan semangat Diana untuk menerima dan menghadapi segala sesuatu yang bakal terjadi pada dirinya dengan lebih tegar. Ibu itu kembali berbisik pelan di telinga kanannya. “Saya tak tahu berapa lama bisa bertahan hidup. Tapi saya yakin, Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi saya, dan juga untuk kamu”.

Teguran Meneguhkan
Ketakutan masih bergelayut di batin Diana. Rasa itu yang membuatnya menunda operasi. Diana meminta pembedahan ditunda selama dua hari. Dia ingin mempersiapkan diri lebih matang. Tapi jeda waktu tak membuatnya kian mantap. Diana sebaliknya merasakan Ketakutan luar biasa.

Diana berharap, dalam situasi genting, keluarganya bisa datang dan menghibur dia. Harapan Diana bertepuk sebelah tangan. Pergulatan batin Diana membuat tubuhnya lemas, nyaris tak berdaya. Baginya pergumulan hidup dan getir yang ditanggungnya bakal segera berakhir. Dia memegang Rosario yang melingkar di lehernya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*