Artikel Terbaru

Eugenius Pradipto: Memuliakan Kayu dan Bambu

Eugenius Pradipto: Memuliakan Kayu dan Bambu
1 (20%) 1 vote

Dinding rumah di Kampung Naga terbuat dari anyaman bambu. Masyarakat setempat beralasan, dengan anyaman bambu bisa dengan jelas melihat api dalam tungku sudah mati atau belum. Namun Pradipto tak puas dengan alasan masyarakat setempat. Saat belajar di Jerman, ia mengetahui alasan ilmiah pemilihan dinding anyaman bambu itu. “Teknik kontruksi bangunan ini mengedepankan hukum termodinamis, sehingga asap yang mengandung karbondioksida akan bergerak keluar melewati celah-celah dinding anyaman bambu. Ini juga membuat ruang di dalam tidak lembab, sehingga tak ada rayap. Saya baru tahu setelah belajar di Jerman,” ujarnya sembari tertawa terkagum-kagum akan kehebatan nenek moyang Kampung Naga yang mampu membuat teknik bangunan yang begitu ilmiah serta amat bersahabat dengan alam.

Belajar di Kampung Naga membuat dia kian sadar bahwa sebuah bangunan tak hanya menekankan aspek fisik belaka, tetapi juga menjadi bentuk aktualisasi teknologi dan budaya. Sebagai arsitek yang selalu mendengungkan kepedulian terhadap alam, Pradipto sangat prihatin, lantaran masyarakat masih memandang sebelah mata kehebatan bambu dan kayu. Kemegahan bangunan beton yang menakjubkan, berakibat kayu dan bambu dianggap tak bernilai. “Padahal kelenturan bambu hampir menyamai baja dan bisa bertahan 50 tahun lebih,” ujarnya.

Roh Indonesia
Pradipto membuktikan. Ia membangun beberapa bangunan yang berbahan baku kayu atau bambu, seperti Gereja Bambu St Yakobus Klodran Bantul, DI Yogyakarta, Rumah Budaya Tembi Yoyakarta, kawasan kaki lima di Salatiga Jawa Tengah, dan perkampungan transmigrasi di Kalimantan Tengah. Semua dibangun dengan kayu dan bambu.

Gereja Bambu Klodran yang dibangun pada 2006 membuktikan kekuatan bambu dengan bentangan atap lebih dari 18 meter dan luas bangunan 225 meter persegi. Bangunan ini hanya menelan biaya 90 ju ta rupiah dan dikerjakan selama empat bulan. Teknik kontruksi Gereja Bambu ini mengantar Pradipto hingga ke Jepang, Korea, dan Austria. Ia juga meraih Penghargaan I Karya Konstruksi Indonesia bidang Teknologi Tepat Guna dari Departemen Pekerjaan Umum, serta masuk dalam karya arsitek dunia yang berpusat di Inggris.

Erupsi Gunung Merapi pada 2010 juga menjadi momen pembuktian Pradipto. Pria yang gemar olahraga judo ini ingin membuka mata pemerintah dan masyarakat agar sudi melirik kayu dan bambu. Pada awal 2011, di atas lahan 1500 meter persegi, ia dipercaya membuat hunian bagi para pengungsi di Sudimoro, Muntilan, Jawa Tengah. Ia membuat perkampungan yang semua terbuat dari kayu dan bambu. Ia membangun 10 rumah dan fasilitas umum, serta jembatan dari kayu dan bambu. Ia menghabiskan dana sekitar 150 juta rupiah. “Saya menjamin bangunan ini bertahan lama sebagai bangunan permanen yang layak huni,” ujar ayah tiga anak ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*