Artikel Terbaru

Via Dolorosa, Menyusuri Jalan Penebusan

Via Dolorosa, Menyusuri Jalan Penebusan
1 (20%) 1 vote

Semakin masuk ke dalam, jalanan semakin ramai. Pasar kian dipenuhi orang. Sebuah truk sampah lewat di hadapan kami, juga beberapa gerobak berisi barang dagangan yang berlalu lalang. Di sekitar kami orang berhiruk-pikuk menjajakan dagangan. Masyarakat sekitar Via Dolorosa mayoritas beragama Islam, kawasan ini memang sektor Muslim. Namun, mereka sudah terbiasa melihat ibadat Jalan Salib.

Pembimbing rohani selalu mengingatkan para peziarah agar tetap berkonsentrasi mengikuti doa Jalan Salib. Meskipun berada di jalan dan pasar yang ramai, para peziarah nampak khusyuk menapaki Jalan Salib. Hiruk-pikuk dan aneka dagangan seperti tak digubris oleh para peziarah. Mereka terus merenungi jalan sengsara yang pernah dilalui Yesus. Sebelum memulai Jalan Salib ini, Romo Laurentius memang sudah memberitahukan kepada peserta ziarah bahwa tantangan ketika berjalan salib di Via Dolorosa adalah menciptakan keheningan di tengah kebisingan yang terjadi di sekitar.

Stasi berikut mesti dilalui dengan tenaga tambahan. Jalan mulai menanjak. Anita Stephanie, salah seorang peserta ziarah mulai memperlambat langkah. Rupanya dia memiliki masalah dengan kakinya. Namun, ia tetap berusaha terus menyusuri tanjakan demi tanjakan, meski dengan menahan rasa sakit di kaki. Suaminya dengan setia menuntun Anita.

Jalan Salib di Via Dolorosa memang terasa berbeda. Langkah demi langkah terasa sedang mengikuti Yesus yang memimpin di depan sana. Langkah kaki yang kian berat dan kucuran keringat mengingatkan akan penderitaan Yesus. Yesus seperti sungguh-sungguh hadir di Via Dolorosa. Ia berjalan beriringan dengan umat menapaki jalan derita demi cinta-Nya yang tanpa pamrih kepada umat manusia.

Di salah satu sisi tembok Biara St Charalampos dari Gereja Ortodoks menjadi perhentian ke delapan. Stasi ini menjadi stasi terakhir yang berada di keramaian pasar. Stasi-stasi berikutnya berada di dalam Gereja Makam Kudus. Namun, saat itu banyak peziarah berada dalam gereja, terang saja saat itu adalah musim liburan. Rombongan peziarah kami tak bisa masuk ke dalam gereja. Maka, sisa perhentian kami laksanakan tidak di dalam gereja. Stasi kesembilan hingga empat belas, kami lakukan di pelataran salah satu kubah Gereja Makam Kudus.

Usai Jalan Salib, kami merenung masing-masing, menikmati pengalaman iman yang pasti tak bisa dilupakan. Via Dolorosa menjadi tempat menapaki setiap derita yang dirasakan Yesus. Via Dolorosa membawa setiap insan yang menyusuri jalan ini kepada “salib” yang menjadi tanda kehinaan berubah menjadi lambang kemuliaan. Via Dolorosa menjadi jalan penebusan akan dosa-dosa manusia. Ia adalah jalan menuju ke kebangkitan mulia. Jalan derita itu menjadi jalan kebangkitan penuh kemuliaan.

Paulus Adhitama

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 27 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*