Artikel Terbaru

Minggu Palma: Tangan dan Mulut Harus Bersorak

Minggu Palma: Tangan dan Mulut Harus Bersorak
1 (20%) 1 vote

Setidaknya dalam Minggu Palma, umat harus merasa bebas dari berbagai kekangan sosial, politik, dan ekonomi untuk bisa menyatakan rasa sukacita secara spontan dan haru yang tulus. Bila umat merayakan Minggu Palma karena sebuah rutinitas liturgi tahunan, pesannya tentu tak mendarat. Ironi Minggu Palma ini harus disikapi dengan hati yang meluap-luap dan dorongan untuk berteriak, “Wahai Kristusku, aku melihat-Mu. Adakah Kau lihat lambaian tanganku?” Seruan itu mestinya keluar tanpa rekayasa.

Sayang, di Filipina kadang banyak umat berbondong-bondong mencari Gereja sejuk, dingin, dan ber-AC. Mereka mencari jalan-jalan dengan banyak pohon rindang dan tidak menantang, lokasi di mana diadakan prosesi Jalan Salib. Tangan mereka melambai, tapi desahan mulut terus berteriak “Salibkan Dia; salibkan Dia!” Apakah pesan penderitaan Yesus sampai di hati umat? Melihat situasi ini, saya berpikir, umat tak ingin lambaian tangannya diraih Yesus.

Kecemasan yang terjadi dalam praktik Minggu Palma terjawab ketika Yesus duduk di atas keledai. Keledai bukanlah hewan yang biasa dipakai dalam perang pada zaman dulu. Keledai adalah hewan tunggangan di masa damai dan simbol kerendahan hati. Dengan memilih keledai pinjaman sebagai kendaraan, Yesus menegaskan sifat kerajaan-Nya yang membawa damai. Dia datang untuk menyatakan damai Ilahi dan bukan mengumumkan perang, permusuhan, dan kebencian. Dialah sahabat orang kecil dan miskin, sekaligus saudara bagi orang berdosa. Sebab itu, para pengikut-Nya pun diminta agar memberlakukan hal yang sama, yaitu menjadikan kedamaian, persahabatan, kerendahan hati, dan kesederhanaan sebagai nilai hidup manusia.

Bayangkan, bila keledai itu tidak rendah hati. Ketika keledai mendengar pujian sorak-sorai dan merasa bahwa pujian itu untuk dirinya, tentu ia akan membusungkan dada, menepuk dada, dan berkata, “Sayalah Raja!” Jika demikian, Raja yang sementara duduk di atas punggungnya akan jatuh. Tapi tidak demikian, keledai pun bertelinga dan sadar diri. Ia melambai-lambaikan ekornya bak daun palma sambil mulutnya terus berteriak, “Hosanna; Hosanna!” Ia sadar siapa yang sedang duduk dipunggungnya.

Ternyata menjadi raja dan pemimpin tak harus membusungkan dada, tapi cukup menyimpan saja dalam hati dan terus berjuang; tak hanya terus memandang ke atas dan menebar senyum seperti janji-janji palsu yang berujung kemerosotan harga diri. Pemimpin harus menyadari diri bahwa perannya adalah menyelamatkan orang lain. Ini pesan penting dari si keledai untuk Gereja. Yesus pernah bersabda, “Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti aku (Mat.16:24)”.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*