Artikel Terbaru

Minggu Palma: Tangan dan Mulut Harus Bersorak

Minggu Palma: Tangan dan Mulut Harus Bersorak
1 (20%) 1 vote

Palma atau Palmistry
Palma, kata Bahasa Latin, berarti “telapak tangan”. Di Filipina, kata ini kemudian dikaitkan dengan nama pohon yang berdaun seperti telapak tangan seperti pohon kelapa, enau, dan pinang. Di Filipina, Minggu Palma tak bisa disebut Minggu Palma bila orang tak membawa pohon sejenis. Siapapun akan dikecam dan dipikir pembelot pada tradisi kekristenan.

Karena itu, penyelarasan pemahaman daun palma sering bermasalah di Filipina. Ada yang ingin menggunakan pohon lain yang lebih hijau, besar dan segar, tapi ada juga yang tetap mempertahankan daun berjari sebagai daun palma. Namun, hal itu tak terlalu penting. Yang utama justru makna Minggu Palma, yang disebut “Minggu Telapak Tangan” oleh umat Katolik Filipina. Sebutan itu bukan berarti palmistry, cara meramal nasib atau kepribadian seseorang berdasarkan garis telapak tangan.

Penjelasan sebutan ini penting karena praktik palmistry begitu menggurita di Filipina. Umat sangat percaya, garis tangan berhubungan dengan nasib dan watak seseorang. Menurut mereka, tangan merupakan ujung dari jutaan sel saraf yang berhubungan langsung dengan otak. Dipercaya, dari telapak tangan, semua penyakit bisa disembuhkan atau minimal dikurangi. Tak heran banyak orang Filipina–bahkan orang Katolik–mencoba peruntungan garis tangan ini. Bayangkan, selesai Misa, orang berbondong-bondong mencari ilah-ilah lain, dan ratusan Peso dikeluarkan. Lalu, apa sebenarnya hakikat “Minggu Telapan Tangan”?

Lagi-lagi, umat sering keliru. Yesus tiba di Yerusalem bukan sebagai dukun dan peramal. Dia datang sebagai Raja Damai yang menyelamatkan tidak secara fisik, tapi secara rohani, demi menebus dosa manusia. Dia tak diutus untuk meramal peruntungan, kesehatan, kehidupan, jodoh, rejeki, dan perkawinan, apalagi keturunan. Yesus datang karena satu tujuan. Dia membawa misi Allah untuk Menyelamatkan umat manusia dari jerat dosa. Minggu Palma adalah kesempatan Melupakan hal-hal aneh di luar diri dan memasrahkan diri pada Kristus. Caranya, mulut dan tangan harus berjalan seiring memuji Tuhan. Jangan sampai tangan melambai-lambaikan daun palma dalam sukacita, sementara mulut berteriak, “Salibkan Dia!” Selamat merenungkan Jalan Salib Kristus selama Pekan Suci.

Edgardo Bautista Lazo OP,  Pastor Paroki St Maria Balasan Iloilo, Filipina

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 20 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*