Artikel Terbaru

Johanes Henri Sriyono: Totalitas Pelayanan Sang Pemijat

Johanes Henri Sriyono: Totalitas Pelayanan Sang Pemijat
1 (20%) 1 vote

“Rumah saya di RT 1, RW 24, Nomor 27,” terang Sriyono saat HIDUP menanyakan alamat rumahnya, Jumat, 4/3. Benar saja, memang agak susah menemukan rumah Sriyono. Di lingkungannya, warga tidak mengenal Johanes Henri Sriyono tapi ketika disebutkan nama Sriyono atau Aki warga dengan gampang menunjukkan. “Oww, orang yang suka mengobati,” kata seorang tetangga menyebut Sriyono.

Tak seperti kebanyakan pemijat atau terapis, tak ada plang “Ahli Urut” atau “Ahli Pengobatan Tradisional” di halaman depan rumah Aki. Sudah 36 tahun sebagai pemijat, sama sekali tak ada di benak Aki untuk memancang papan nama.

Namun, rumah Aki hampir kedatangan tamu tiap hari. Atau dia yang mendatangi rumah pasien. Itu pun jika dia tak sedang menerima pasien di rumahnya. Mereka yang membutuhkan jasanya datang dari berbagai latar belakang budaya, ekonomi, dan sosial. “Semua orang, entah kaya atau miskin, sama ketika sakit. Mereka sama-sama menderita, maka saya wajib menolong semua orang,” katanya.

Pernah suatu hari, suami Sri Suwarti itu diminta terbang ke Singapura. Seorang warga negara di sana mendapat informasi tentang Aki dari kenalannya di Indonesia. Sebulan Aki tinggal di “Negeri Singa”. Bahkan, mantan pasiennya yang telah sembuh dari kanker, meminta dia untuk membuka praktek di sana.

Namun, dia memutuskan kembali ke Tanah Air. Aki ingat keluarganya. Selain itu, mungkin juga dia tak nyaman karena mantan pasiennya itu mengenakan tarif 15 dolar Singapura kepada tiap orang yang datang berobat kepadanya.

Aki pantang meminta, apalagi sampai mematok harga atas jasanya. Dia hanya akan menerima seandainya diberi. Jika tidak, Aki tak pernah mempersoalkan. Dia tetap membantu jika suatu hari pasien itu datang kembali kepadanya. Di tengah dunia yang segala sesuatu diukur dengan uang, ternyata masih ada orang seperti Aki, yang tak kepincut dengan fulus.

Pemberian Tuhan
Teknik pijat perabaan yang dimiliki Aki tak diperoleh dari kursus. Dia juga tak pernah berguru kepada siapa pun. Justru sebaliknya, banyak orang yang meminta Aki untuk mengajari teknik perabaan. Aki bersedia berbagi kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain.

Dia mengenang, pertama kali memijat orang sekitar tahun 1980. Peristiwa itu terjadi tiba-tiba. Suatu hari ada orang yang datang ke rumahnya. Aki tak mengenal orang itu. Dia datang dan meminta Aki untuk menyembuhkannya. Spontan, Aki meraba punggung kaki orang itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*