Artikel Terbaru

Johanes Henri Sriyono: Totalitas Pelayanan Sang Pemijat

Johanes Henri Sriyono: Totalitas Pelayanan Sang Pemijat
1 (20%) 1 vote

Kata Aki kepada orang itu, kolesterol yang menyebabkannya stroke, bukan darah tinggi. Setelah dipijat, orang itu sembuh. “Dia datang karena Tuhan. Dan kemampuan yang saya miliki juga pemberian-Nya,” katanya. Sejak peristiwa itu, makin banyak orang yang datang kepadanya.

Aki percaya, setiap orang yang datang kepadanya karena Tuhan. Oleh karena itu, dia tak pernah menolak siapa pun. Dia juga rela meninggalkan rumah dan melayani orang lain seandainya calon pasien tak mampu datang ke rumahnya karena sakit. Tapi, sebaiknya mereka telepon dia, sebelum ke rumah. Dia khawatir begitu pasien tiba, Aki sedang tak ada di rumah. Istri dan anak-anak Aki juga memahami bila pagi-pagi buta ada orang yang mengetuk pintu rumah mereka dan memohon bantuan.

Godaan dalam karya pelayanan Aki adalah waktu dan materi. Orang sakit tak mengenal waktu. Mereka bisa datang kapan pun. Selain itu, orang gampang gelap mata jika berhadapan dengan uang. Jika tak bisa mengendalikan diri, setiap perbuatan kita selalu ada hitung-hitungannya.

Mampukah Aki mengatasi cobaan itu? Entahlah, tapi hingga saat ini, dia masih memegang teguh prinsipnya, melayani siapa pun, kapan pun, dan di mana pun tanpa mengharapkan imbalan. Dia juga berbesar hati seandainya mantan pasien melupakannya. Aki yakin, Tuhan selalu Mengingat dia.

Aki juga tak pernah mengungkit orang-orang yang pernah ia sembuhkan. Sebab, katanya, jika masih mengungkit karya yang telah dilakukan, kita belum ikhlas memberi dan melayani orang lain. Adakah pengalaman yang sangat berkesan selama memijat orang? “Semua biasa saja. Mungkin yang paling merasa terkesan, mereka yang datang dan sembuh dari penyakitnya,” jawab Aki penuh canda.

Mensyukuri Hidup
Jika tak ada orang yang datang dan meminta bantuannya, Aki tinggal di rumah. Seperti pada Minggu siang, 6/3, hanya ada dia dan dua anaknya. Aki mengisi waktu dengan menonton televisi, membaca koran, dan menjaga dua buah hatinya. Sang istri membuka warung di sebuah pusat perbelanjaan di Serpong. Sementara tiga anaknya yang lain bekerja.

Aki bersyukur, dia masih bisa menikmati kehidupan. Bentuk rasa syukurnya sederhana, sesederhana hidup dan penampilannya. Dia berterima kasih kepada Tuhan karena masih diberi hidup, menyaksikan perkembangan anak-anaknya, dan bisa menikmati alam. “Kenikmatan hidup bukan terletak pada yang kita cari, tapi mensyukuri apa yang sudah kita terima,” pungkasnya.

Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 20 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*