Artikel Terbaru

Kawin Kontrak

Kawin Kontrak
1 (20%) 1 vote

Setelah istrinya meninggal, seorang teman saya menikah lagi dengan seorang wanita yang sebaya dengannya, berumur 54 tahun. Apakah perkawinan mereka itu sah, sebab mereka tidak bisa lagi mempunyai anak? Jadi, untuk apa mereka menikah kalau tidak bisa mempunyai anak? Mohon penjelasan!

Victor Arisandi, Semarang

Pertama, keabsahan perkawinan Katolik tidak tergantung pada bisa-tidaknya
suatu pasangan mempunyai anak. Sebab, tujuan pertama perkawinan ialah ”kesejahteraan suami-istri” (bonum coniugum). KHK Kan 1055 # 1 menyebutkan ”kesejahteraan suami-istri” pada urutan pertama, baru kemudian yang kedua ialah ”kelahiran dan pendidikan anak”. Katekismus mengajarkan bahwa ”suami istri yang tidak dikaruniai Tuhan dengan anak-anak, masih dapat menjalankan kehidupan berkeluarga yang berarti secara manusiawi dan Kristen. Perkawinan mereka dapat menghasilkan dan memancarkan cinta kasih, kerelaan untuk membantu, dan semangat berkurban” (KGK 1654).

Kedua,
karena kesatuan yang total antara suami istri, masing-masing pasangan mempunyai peran yang besar dalam perkembangan pasangannya, yaitu sebagai sarana rahmat bagi pasangannya. Kesejahteraan suami istri ini mencakup segala dimensi manusia, baik fisik (sandang, papan, dan pangan), psikis (perlindungan, sahabat, ketenangan), moral (kesejatian hidup bersama) maupun rohani (penghayatan iman pribadi maupun bersama).

Jika kesatuan cinta di antara mereka terus dipupuk dan dikembangkan, maka masing-masing akan berkembang dan membantu perkembangan pasangannya menuju kesempurnaan. Perbedaan antara pria dan wanita akan menjadi sarana untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Apa yang tidak dimiliki oleh pria dilengkapi oleh wanita, dan sebaliknya. Melalui penyatuan diri mereka, terjadilah proses penyempurnaan masing-masing pihak. Kesatuan seluruh pribadi inilah yang diungkapkan dalam hubungan seksual suami istri, yaitu sebagai ungkapan cinta dan penyerahan diri (bdk GS 49). Dengan demikian, pasangan tersebut menjadi sarana rahmat Tuhan untuk menyempurnakan manusia. Pada akhirnya, suami istri akan semakin mencerminkan citra keserupaan dengan Allah.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*