Artikel Terbaru

Komuni Sebelum Pengakuan Dosa

Komuni Sebelum Pengakuan Dosa
3 (60%) 2 votes

Ketiga, bila seorang berada dalam keadaan dosa berat, Katekismus mengatakan: ”Tetapi bukan Ekaristi, melainkan Sakramen Pengampunan ditetapkan untuk mengampuni dosa berat” (KGK 1395). Komuni boleh diterima setelah dia membersihkan dirinya melalui Sakramen Pengampunan Dosa (RC 81-82).

Bolehkah kita mengakukan dosa yang sama lebih dari dua atau tiga kali dengan jarak waktu? Ini dilakukan bukan karena tidak percaya pada pengampunan Tuhan Yesus, tetapi bertujuan agar diri kita bisa lebih tenang dan ringan dalam hati kita, maka kita menjadi manusia baru. Tolong dijelaskan dan terima kasih.

Hendriyanto, Jakarta

Pertama, kita harus percaya bahwa pengampunan yang diberikan oleh Allah melalui Sakramen Tobat sungguh berdaya guna menghapuskan dosa-dosa dan hukuman dosa. Apa yang telah diampuni oleh Allah, tidak lagi diingat-ingat atau diungkit kembali.

Kedua, bisa jadi ada kebutuhan psikologis untuk memantapkan hati yang bertobat itu. Kemantapan itu belum dirasa ”memuaskan”, bahkan sesudah melakukan denda dosa yang diberikan imam. Jika demikian, tidaklah perlu mengakukan kembali dosa-dosa kita yang lama. Sikap tobat itu bisa diungkapkan melalui perbuatan silih atas inisiatif sendiri. Kerinduan untuk menjadi manusia baru sungguh sangat mulia dan bisa menjadi pendorong kuat untuk perbuatan-perbuatan silih tersebut.

Karena dosa menyebabkan kerugian bagi sesama, maka sikap tobat ini juga mencakup kemungkinan memberikan ganti rugi, misalnya mengembalikan barang yang dicuri, memperbaiki nama baik orang yang difitnah, memberi silih untuk penghinaan, menyenangkan orang yang telah disakiti. Perlunya melakukan hal ini dituntut oleh keadilan itu sendiri.

Memang absolusi menghapuskan dosa, tetapi tidak membereskan semua ketidakadilan yang disebabkan oleh dosa-dosa itu. Si pentobat sendiri perlu menguatkan kembali ”kesehatan rohaninya” yang telah dilukai atau dirusak oleh dosa-dosanya. Misalnya, dengan menambah doa, puasa, dan pantang secara sukarela, melakukan derma, berkorban, dan bersabar menerima salib, memberikan pelayanan, karya amal, dll (bdk KGK 1459-1460).

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 11 Tanggal 15 Maret 2009

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*