Artikel Terbaru

Rekonsiliasi: Gereja Senantiasa Terbuka

Rekonsiliasi: Gereja Senantiasa Terbuka
1 (20%) 1 vote

Romo Ranto mengakui ada umat tertentu yang punya komitmen kesalehan. Mereka secara berkala mengaku dosa, rata-rata sekali dalam sebulan. Romo Ranto sendiri mengaku dosa kepada bapa pengakuan. “Gereja senantiasa membukakan pintu bagi umat yang ingin mengaku dosa,” tegas imam yang ditahbiskan pada 27 September 2007. Namun Romo Ranto menilai, umat umumnya hanya mengaku dosa pada masa Adven dan Prapaskah.

Soal kecenderungan umat mengaku dosa pada masa Adven dan Prapaskah juga diakui Ariani. Bagi umat Paroki St Anna Duren Sawit, Jakarta Timur ini, dua masa itu adalah momen di mana umat memperbarui diri untuk menerima rahmat Allah dalam perayaan Paskah dan Natal. Ariani bercerita, selalu ada kelegaan setelah menerima Sakramen Rekonsiliasi. Namun ia tak melulu menunggu Adven atau Prapaskah untuk mengaku dosa. “Saat-saat tertentu bila merasa punya dosa yang mengganggu kenyamanan untuk berelasi dengan Tuhan, saya akan mengaku dosa,” ujar lulusan Fakultas Pendidikan dan Bahasa, Ilmu Pendidikan Agama Katolik Unika Atma Jaya Jakarta ini.

Selibat Sering
Jika umat awam hanya “wajib” mengaku dosa dua kali setahun, kaum selibat dituntut lebih. Fr Hendrikus Frederik Lewo Muda CICM misalnya. Ia mengaku dosa sebulan sekali. Sebagai calon imam, Fr Dicky me rasa perlu senantiasa membangun relasi akrab dengan Tuhan.

Di komunitas Skolastikat Sang Tunas CICM, Sakramen Rekonsiliasi biasanya diadakan dua kali dalam setahun; masa Adven dan Prapaskah. Namun, Fr Dicky dan para frater lain melakukan pengakuan pribadi dengan pastor pembimbing rohani masing-masing dan kadang dengan pastor paroki tempat mereka bertugas.

Berangkat dari pengalaman mengabdi di sebuah paroki, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini beranggapan, umat memiliki keengganan mengaku dosa dengan pastor parokinya. Alasannya, kata Fr Dicky, karena malu dengan pastor paroki sehingga cenderung mengaku dosa di paroki lain atau dengan pastor lain yang bertugas pada kesempatan tersebut.

Fr Dicky menyayangkan, umat mestinya tak perlu malu karena imam tak akan menceritakan dosa-dosanya di luar ruang pengakuan. Frater kelahiran Bandung, 15 Februari 1992 ini menganjurkan umat mengaku dosa setiap ada kesempatan, tak hanya menjelang Natal dan Paskah.

Senada dengan Fr Dicky, Br Herman Yosef Gultom BM mengatakan, Sakramen Rekonsiliasi penting bagi setiap insan, termasuk bagi dirinya sebagai biarawan. “Hidup perlu terus diperbarui, dimurnikan kembali bagai kertas putih yang selalu siap sedia diisi oleh penulisnya.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*