Artikel Terbaru

Rekonsiliasi: Gereja Senantiasa Terbuka

Rekonsiliasi: Gereja Senantiasa Terbuka
1 (20%) 1 vote

Bruder kelahiran Pematangsiantar, Sumatera Utara, 36 tahun silam ini tak punya jadwal khusus untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi. Namun saat masa Prapaskah atau retret tahunan, ia pasti menerima Sakramen Rekonsiliasi. “Sebagai religius, sakramen ini tentunya senantiasa hidup di dalam diri. Sakramen Tobat adalah kerinduan untuk kembali menjadi bebas yang memerdekakan dan itu dimulai dengan mengakui dosa-dosa kita,” tegasnya. Br Herman berharap, paroki-paroki senantiasa mendengungkan kepada umat tentang pentingnya Sakramen Rekonsiliasi sehingga umat semakin sering menerima pengampunan dari Allah.

Segendang sepenarian dengan Br Herman, Sr Lidwina Kartini Kwee SCMM berharap, Sakramen Rekonsiliasi menjadi lebih akrab di kalangan umat, terutama generasi muda. Dalam dunia sekarang ini, kata Sr Lidwina, banyak orang muda yang terjerumus dalam dinamika dunia yang jauh dari semangat Gereja. Biarawati kelahiran Padang, Sumatera Barat, 2 Agustus 1941 ini mengaku miris dengan kehidupan orang muda yang seolah tak mengenal batas. “Banyak orang muda sudah terlanjur, misal teledor dalam seks bebas. Saya kira peran keluarga untuk menanamkan dasar-dasar rohani sangat penting.”

Sr Lidwina berharap, generasi muda sadar akan panggilan hidup menjadi kudus, terutama pada Tahun Kerahiman Allah ini. Menerima Sakramen Rekonsiliasi adalah perjalanan menuju hidup yang kudus. Suster Kepala Panti Wreda St Anna Teluk Gong, Jakarta Utara ini mengatakan bahwa di medan karyanya, penghuni panti yang beragama Katolik bisa menerima Sakramen Rekonsiliasi sekali seminggu. “Namun tidak semua, karena kadang ada yang sakit.

Bagi Sr Lidwina, Sakramen Rekonsiliasi sangat penting untuk membarui hidup. Sekali sebulan, ia mengaku dosa kepada bapa pengakuan. “Kita butuh pengampunan dan Allah yang Maharahim senantiasa menyambut setiap insan yang datang mengakukan dosa-dosanya.”

Setiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman berbeda mengenai Sakramen Rekonsiliasi. Pemahaman dan pemaknaan akan Sakramen Rekonsiliasi ini, turut dipengaruhi beragam unsur budaya masingmasing. Maka katekese tentang Sakramen Rekonsiliasi harus terus digalakkan. Hal inilah yang menjadi bahasan utama dalam ajang rutin Asian Liturgy Forum (ALF) ke- 20 yang dihelat di Keuskupan Denpasar.

Edward Wirawan
Laporan: Yanuari Marwanto/Maria Pertiwi/A. Aditya Mahendra

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 44 Tanggal 30 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*