Artikel Terbaru

Sakramen Rekonsiliasi, Inkulturasi dan Sekularisasi

Sakramen Rekonsiliasi, Inkulturasi dan Sekularisasi
Mohon Beri Bintang

Tantangan Sekularisasi
Selain usaha inkulturasi, ALF juga melihat fenomena hilangnya sense of sin (kesadaran akan dosa) di kalangan umat. Hal ini terjadi akibat sekularisasi di dalam kehidupan masyarakat modern. Inilah tantangan pastoral pelayanan Sakramen Rekonsiliasi di Asia. Romo Vincent Paul Thomas mengungkapkan, di kalangan umat, ada fenomena berkurangnya kesadaran akan kehadiran Tuhan dan pengalaman kedekatan dengan-Nya. “Hidup beragama–khususnya Sakramen Pengampunan–lebih dipahami sebagai penebusan dosa daripada suatu perjumpaan dengan Tuhan yang hidup. Selain itu, berkurangnya minat mengaku dosa juga dipengaruhi berkurangnya kebutuhan untuk diampuni,” kata peserta ALF asal Malaysia ini.

Sementara peserta dari Taiwan, Romo Charles Pan CM berpendapat, Sakramen Rekonsiliasi menawarkan kepada umat Kristiani perjumpaan unik dengan cinta kasih Tuhan, penebusan dan karya keselamatan Kristus. Melalui Sakramen Rekonsiliasi, umat berpartisipasi secara istimewa dalam kasih Ilahi yang selalu melampaui kedosaan manusia.

Romo Pan juga mengungkapkan, kesulitan pastoral yang dialami dalam pelayanan Sakramen Rekonsiliasi di Taiwan tak lepas dari atmosfir sekularisasi yang mengikis kesadaran akan dosa. “Karena kelemahan manusia, mereka semakin meninggalkan kebiasaan untuk mendatangi seorang imam dan mengaku dosa. Anak muda bahkan ada yang tidak mengerti bagaimana cara mengaku dosa; mereka memerlukan katekese untuk ini.”

Di Taiwan, jumlah umat yang menerima Sakramen Rekonsiliasi cenderung stabil dalam beberapa tahun belakangan. Sebagian menganggap Sakramen Rekonsiliasi sebagai kesempatan berkonsultasi, bahkan justru membicarakan kesalahan orang lain. “Pelayanan Sakramen Rekonsiliasi ada secara rutin di banyak paroki, tapi hanya beberapa orang yang memanfaatkan kesempatan ini,” ujar Romo Pan.

Kurangnya kesadaran mengaku dosa, terutama di kalangan anak muda terjadi di Myanmar. Kebanyakan anak muda hanya mengaku dosa sekali atau dua kali dalam setahun, demikian diungkapkan Romo Dominic Jo Du. “Alasannya, karena anak-anak muda yang telah bekerja begitu sibuk dengan pekerjaannya.”

Anak-anak muda tidak merasa bahwa Sakramen Rekonsiliasi menjadi kebutuhan mendesak bagi hidup mereka. “Kehilangan kesadaran akan dosa di kalangan anak muda disebabkan oleh pengaruh kehidupan modern. Banyak yang terbiasa hidup bersama tanpa ikatan pernikahan,” ungkap Romo Jo.

Di Filipina, kesadaran orang muda akan dosa, kata Romo Nilo Cornejo Mangussad, mengalami penurunan. Sekularisasi, perubahan budaya, dan pengaruh media sosial punya andil besar dalam hal ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*