Artikel Terbaru

Sakramen Rekonsiliasi, Inkulturasi dan Sekularisasi

Sakramen Rekonsiliasi, Inkulturasi dan Sekularisasi
Mohon Beri Bintang

Di kalangan anak muda ada ungkapan, “Mengapa mengaku dosa kalau Tuhan saja mencintai kita tanpa syarat, baik-buruknya seseorang, surga telah menanti.” Keyakinan ini dapat menyesatkan iman. Romo Nilo menambahkan, kini umat kadang enggan mengaku dosa karena merasa malu mengakukan dosa yang sama kepada pastor parokinya.

Butuh Katekese
Aspek Sakramen Rekonsiliasi yang memantik perhatian di Asia adalah inisiasi sakramen ini bagi anak-anak. Dalam konteks ini, keluarga sebenarnya paling bertanggungjawab. Sebagai negara mayoritas Katolik, paroki dan sekolah-sekolah formal di Filipina paling banyak berperan dalam inisiasi Sakramen Rekonsiliasi. Tapi menurut Romo Nilo, banyak orangtua dan keluarga tidak mengusahakan lebih atas apa yang telah dimulai.

Di Filipina, mengaku dosa bukanlah hal yang umum dijalankan bersama keluarga. Namun sebagian dari mereka kadang pergi bersama ke gereja untuk mengaku dosa, terutama saat Prapaskah dan Adven.

Berkaitan dengan katekese Sakramen Rekonsiliasi, mgr Boy mengungkapkan, “Tantangan yang harus segera dijawab Gereja adalah bagaimana menggalakkan katekese bagi kaum muda untuk setia menerima Sakramen Rekonsiliasi.” Sayang, katekese ini tidak menjadi fokus pastoral keuskupan-keuskupan di Filipina. Katekese hanya diberikan kepada anak kelas dua Sekolah Dasar yang akan menerima Komuni Pertama; sementara tak ada program seperti itu untuk orang dewasa.

Di Kamboja, kata Romo Juan de Jesus Solorzano Martinez, tiap keluarga sebenarnya butuh rekonsiliasi akibat rezim perang di masa kekuasaan Pol Pot. “Sehingga pada masa katekumenat, orang lebih dulu mendalami serta mempelajari teologi dan katekese tentang sakramen,” ujar Romo Juan.

Sementara di Timor Leste, Romo Fernandez Rolando Florencio SDB mengungkapkan, praktik katekese Sakramen Rekonsiliasi dalam keluarga terjadi ketika anak akan menerima Komuni Pertama. “Ketika anak akan menerima Komuni Pertama, pada umumnya orangtua juga akan menerima Sakramen Rekonsiliasi.” Menurutnya, perlu ada program pastoral yang memusatkan perhatian pada hubungan mesra dengan Tuhan, yang menganugerahkan Putra-Nya bagi keselamatan manusia. Dalam konteks ini, Sakramen Rekonsiliasi mendapatkan tempatnya. “Tak sekadar merasa telah dibersihkan setelah mengaku dosa, tapi relasi dengan Allah itulah yang mendorong seseorang mengaku dosa,” demikian Romo Rolando.

Antonius E Sugiyanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 44 Tanggal 30 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*