Artikel Terbaru

Inkulturasi Sakramen Rekonsiliasi?

Inkulturasi Sakramen Rekonsiliasi?
1 (20%) 1 vote

Bagaimana budaya dapat berperan dalam perayaan Sakramen Rekonsiliasi?
Sakramen Rekonsiliasi atau Pengakuan Dosa adalah salah satu dari tujuh sakramen yang tidak dapat diinkulturasikan dalam arti sesungguhnya. Upacara perdamaian atau pengakuan kesalahan menurut budaya setempat tak dapat menjadi titik tolak dari sebuah upaya
inkulturasi sakramen ini.

Dalam perayaan Sakramen Pengakuan Dosa, unsur-unsur tertentu dalam budaya setempat dapat dimanfaatkan, misal bahasa dan bagaimana menciptakan lingkungan yang lebih familier terhadap orang yang bersalah. Upacara pemulihan atau perdamaian setempat tidak dapat dijadikan titik tolak untuk Sakramen Pengakuan Dosa yang inkulturatif. Tapi ini bisa menjadi titik tolak untuk perayaan tobat inkulturatif. Perayaan ini harus dibedakan dengan Sakramen Pengakuan Dosa. Perayaan Ibadat Tobat inkulturatif bukan sakramen, namun bisa dimasukkan dalam upacara sakramentali, di sini ada kemungkinan untuk inkulturasi.

Kalau dibuat dalam budaya setempat harus dilihat mana yang bisa dijadikan bagian dalam ibadat yang bermakna kristiani dan mana yang tidak bisa. Kalau ada yang bertentangan dengan ajaran kristiani, termasuk pikiran, tafsiran, atau pandangan dalam budaya tertentu, maka
hal ini tidak bisa diambil. Makna yang diberi orang setempat bisa dipertahankan namun bisa juga ditambah dengan arti berdasar Kitab Suci, tradisi, dan ajara-najaran Gereja.

Apakah Sakramen Rekonsiliasi harus dilakukan dalam “ruang pengakuan” atau bisa juga dilakukan di mana saja?
Kalau orang datang ke gereja memang ada tempat yang disediakan, kalau tidak ada perlu dicari tempat yang aman sehingga rahasia pengakuan terjamin. Hal lain yang perlu mendapat perhatian, tempat itu dapat lebih mengungkapkan keterbukaan dari pelayanan sakramen untuk menerima dengan penuh sukacita dan keramahtamahan. Jangan menciptakan ruang yang membuat orang merasa seperti dihakimi atau menghadap meja pengadilan. Seorang pelayan sakramen diharapkan meneladan Yesus yang murah hati atau mencontoh Allah yang Mahabaik dalam perumpamaan “Anak yang Hilang”.

Sebagai sebuah strategi pastoral, apa yang bisa dilakukan untuk menarik orang lebih sering mengaku dosa?
Pastoral yang mewadahi umat beriman dalam hal Sakramen Pengakuan Dosa lebih disesuaikan dengan keadaan orang setempat, termasuk bagi orang muda. Dicari pendekatan yang menunjukkan keterbukaan Gereja untuk menerima dan merangkul, bukan menghakimi dan menghukum. Diharapkan pelayan sakramen berusaha mendatangi orang, artinya mencari “domba yang hilang” daripada menunggu “domba-domba yang hilang” itu datang atau “domba yang saleh” datang untuk diteguhkan. Kita diharapkan lebih proaktif mencari orang yang hilang, lalu mengajak mereka untuk kembali.

Antonius E Sugiyanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 44 Tanggal 30 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*