Artikel Terbaru

Dominikus Savio Maryanto: Penemu Teknik Ballpoint Circullar Patern

Dominikus Savio Maryanto: Penemu Teknik Ballpoint Circullar Patern
1 (20%) 1 vote

Suatu ketika ada lomba melukis poster di Semarang. Yanto ikut dan keluar sebagai juara pertama. Sejak itu namanya mulai dikenal banyak orang. Dalam sebuah upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus di sebuah lapangan, tiba-tiba ia diberi tugas untuk membuat sketsa wajah bupati. Yanto duduk di salah satu sisi lapangan, lalu menggambar sang bupati dari jauh. Satu jam kemudian, sketsa itu selesai. Melihat hasil karya Yanto, seorang dosen seni lukis dari sebuah perguruan tinggi yang hadir dalam upacara itu terpikat pada dia. Selama tiga tahun Yanto berada dalam mentoring sang dosen.

Koran Bekas
Lulus Sekolah Farming Menengah Atas di Ungaran, Yanto tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena ketiadaan biaya. Ia pun merantau ke Bali. Di pantai-pantai Pulau Bali, ia menggelandang ke sana ke mari dengan harapan mendapatkan pesanan melukis dari para turis. Namun hasilnya jauh dari harapan.

Tiga bulan berselang, ia kembali ke Ungaran. Sehari di Ungaran, Yanto memutuskan pergi ke Jakarta. Menurutnya jika tetap tinggal di kampung dan menjadi pengangguran, ia bisa benar-benar terpengaruh untuk mabuk dan melakukan hal-hal negatif lainnya. Selain itu, dalam hatinya, ia bertekad untuk meraih keberhasilan, entah bagaimana caranya.

Di Jakarta Yanto menjadi kuli bangunan, bahkan hingga ke Bogor. Kerja jadi kuli dijalaninya dengan rela. Di sela pekerjaan, Yanto tetap mengikuti Misa dan bergabung menjadi anggota kor di Paroki St Perawan Maria Ratu Blok Q. Untuk menutupi sisa-sisa semen yang menempel di tangannya, ia menggunakan handbody. Suatu hari, saat menjadi kuli di Bogor, sebuah pertanyaan muncul dalam hatinya, “Saya ini kan pelukis, kok jadi tukang bangunan?” Yanto pun hijrah ke daerah Jatinegara untuk jadi pelukis di emperan toko.

Suatu siang pada 1987, saat menunggu orderan di emper toko, Yanto pergi membeli gorengan di warung. Gorengan itu dibungkus selembar koran. Setelah membeli gorengan, ia kembali ke tempatnya mangkal. Sudah habis gorengan yang ia beli, order lukisan belum juga datang. Yanto mulai gusar karena tak punya uang sepeser pun. Yanto iseng membaca koran bekas, bungkus gorengan dan menemukan lowongan kerja: sebuah majalah di kantor pajak membutuhkan ilustrator.

Yanto pun mengirim lamaran melalui kotak pos. Seminggu kemudian, ia dipanggil untuk wawancara. Karena tak punya uang, Yanto berjalan kaki dari daerah Mampang ke Komdak untuk memenuhi panggilan wawancara. Ada 153 peserta yang ikut seleksi dan mayoritas lulusan perguruan tinggi. Dari semua pendaftar, hanya dua yang diterima, satu di antaranya Yanto.

Di majalah pajak, ia bertugas menjadi ilustrator dan membuat cover. Setelah beberapa tahun, Yanto menjadi wartawan. Di sinilah bakat Yanto semakin terasah. Ia mengenal banyak pejabat, termasuk Sri Mulyani, yang sekarang menjadi Menteri Keuangan RI. Sri Mulyani bahkan mendorong Yanto melakukan pameran tunggal. Dukungan itu mendorong Yanto untuk menggelar beberapa pameran tunggal. Sebelum Sri Mulyani hijrah ke Amerika untuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia, empat kali Sri Mulyani membuka pameran tunggal Yanto. “Saya juga melukis para pejabat dan objek menarik lainnya.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*