Artikel Terbaru

Keterlibatan Umat dalam Ritus Pembasuhan Kaki

Keterlibatan Umat dalam Ritus Pembasuhan Kaki
1 (20%) 1 vote

Aksi Paus Fransiskus dalam ritus pembasuhan kaki tersebut sempat menimbulkan pro dan kontra. “Saya hanya bertanya-tanya, mengapa Paus Fransiskus lebih dulu melakukan tindakan yang mengundang kritik dan baru tiga tahun kemudian memberi penjelasan yang bisa dianggap sebagai pengesahan atas tindakan beliau,” katanya.

Menurut Romo Harimanto, suatu perubahan yang menyangkut kepentingan bersama Gereja universal lebih elok di pertimbangkan secara matang, baru diputuskan dan dipraktikkan bersama. Mereka yang terbiasa melakukan kreativitas dan spontanitas tanpa pendasaran yang bisa dipertanggungjawabkan tak perlu mengacu cara ini, karena memang tak punya otoritas seperti yang dimiliki Paus. Semoga mereka yang berminat mengikuti anjuran Paus akan memetik buah yang segar dan indah dari praktik berbeda yang mungkin baru pertama kali dialami,” kata Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI) ini.

Romo Harimanto mengatakan setiap paroki atau komunitas bisa menentukan cara yang tepat untuk lingkungannya. “Anjuran Paus ini bukan lah keharusan. Komunitas setempat dapat menentukan sendiri mau mengulang saja tata cara lama atau mencoba kemungkinan baru. Tata cara baru perlu diperkenalkan kepada wakil umat terpilih dan juga kepada umat secara keseluruhan sebelum melakukan ritus pembasuhan kaki,” katanya.

Kemungkinan adanya penolakan perlu diantisipasi karena tidak semua umat dapat menerima hal-hal baru dengan mudah. Katekese tentang ritus ini perlu dilakukan, misalnya sebelum Misa dan di dalam Misa, khususnya saat homili Misa Kamis Putih (Coena Domini). Umat perlu mendapat informasi mengenai makna simbolis ritus pembasuhan kaki dan pesan yang terkandung di dalamnya. Nilai utama yang dipetik dari tindakan Yesus adalah lambang pelayanan, pemberian diri dan tanda kasih persaudaraan dan persatuan.

“Namun praktik mencuci kaki dalam tradisi Yahudi sebelum zaman Yesus pun bisa digali. Bahkan juga perlu mencari inspirasi dari praktik komunitas monastik (biarawan dan biarawati) dan umat sepanjang sejarah Gereja. Juga menggali urgensi simbolis “mandatum” itu bagi kehidup an umat pada zaman sekarang,” kata Dosen Liturgi di Fakultas Unika Parahyangan Bandung ini.

Maria Pertiwi/A. Aditya Mahendra

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 13 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*