Artikel Terbaru

APN, Pematangsiantar: Rumah Pendidikan Keluarga Nazareth

APN, Pematangsiantar: Rumah Pendidikan Keluarga Nazareth
1 (20%) 1 vote

Teknik Pembinaan
Sr Patricia Sakoikoi KYM, pimpinan APN saat ini menjelaskan, pada era 1990-an, asrama ini bisa menampung 150-200 orang. Kini jumlah penghuninya berkurang menjadi sekitar 50 orang siswi SMA dan SMP. Siswi penghuni APN berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda.

Selain dari Sumatera Utara, ada juga penghuni asrama yang berasal dari Kalimantan, Jakarta, Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Umumnya, siswi-siswi asal luar Sumatera ini berasrama di APN karena orangtua mereka bekerja di sekitar Pematangsiantar.

“Putri-putri Nazareth” selalu mengawali hari dengan bangun pagi pukul 04.30 pagi. Dari pukul 05.00 hingga 05.45 mereka duduk dalam keheningan untuk belajar, membaca buku atau mengerjakan tugas sekolah. Setelah itu mereka mulai santap rohani dengan ibadat. Sebelum berangkat ke sekolah, mereka mengerjakan pekerjaan di pos masing-masing seperti mencuci piring, membuang sampah dan lain-lainnya.

Di tempat ini para “Putri Nazareth” juga diasah dalam keterampilan memasak. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok masak. Pada hari tertentu seperti saat Hari Kartini, mereka mengadakan lomba masak antarkelompok. Kata Sr Patricia, hal sederhana ini dibuat agar mereka paham akan tugas dan tanggung jawab sebagai perempuan kini dan kelak.

Para suster menjadi contoh bagi para “putri Nazareth” ini, mereka memberi apresiasi atau pujian bagi anak yang berprestasi atau menegur setiap anak yang berbuat kesalahan. Pendekatan seperti ini dilakukan untuk menjaga semangat persaudaraan. Selain diadakan pendampingan, mereka juga mengadakan kegiatan khusus seperti piknik rohani dan retret.

Sr Patricia memiliki satu kunci penting untuk pembinaan putri Nazareth. Ia “mengambil hati” anak asrama. “Tidak mesti banyak nasihat, tetapi lebih dengan tindakan, tidak boleh menyinggung privasi mereka di depan umum, serta merangkul mereka sebagai teman,” kata Sr Patricia.

Solidaritas dan Prestasi
APN juga mengasah jiwa sosial para penghuninya. Mereka biasanya menyisihkan lima ribu rupiah per bulan untuk diberikan kepada yang membutuhkan. Dari usaha ini, mereka pernah membagikan makanan kecil bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Pematangsiantar. Mereka juga aktif dalam pembinaan intelektual di Sekolah Budi Mulia.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*