Artikel Terbaru

APN, Pematangsiantar: Rumah Pendidikan Keluarga Nazareth

APN, Pematangsiantar: Rumah Pendidikan Keluarga Nazareth
1 (20%) 1 vote

Beragam prestasi pernah diraih oleh putri-putri APN. Di sekolah mereka masuk dalam jajaran siswi berprestasi. Bahkan dua tahun lalu Maria Harianja, salah satu dari anak APN meraih juara umum di Sekolah Budi Mulia.

Proses belajar di APN menunjukkan hasil yang baik. Beberapa alumni APN pada akhirnya dapat diterima di beberapa universitas terbaik di Indonesia. Reta Montana misalnya; ia diterima melalui jalur undangan di tiga universitas sekaligus, namun akhirnya “Putri Nazareth” asal Lubuk Pakam ini memilih masuk STAN.

Reta mendapat banyak pelajaran berharga dari APN. Ia tumbuh matang dalam kecerdasan dan spiritualitas. “Di APN saya memahami dan dapat menghidupi nilai-nilai agama Katolik,” kata mahasiswi STAN angkatan 2015 ini. “Kedisiplinan yang saya dapat dari APN sangat membantu saya menjalani hidup,” katanya. Kini, meski terpisah jarak, Reta berencana akan mengunjungi APN jika ada liburan. Ia ingin membagikan pengalaman kepada adik-adiknya di asrama.

Martina Ketaren, alumni APN yang lain, kini mahasiswi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang. Sebagaimana alumni APN, mereka tetap menjalin komunikasi dengan para suster pembina APN.

Sr Patricia mengaku, para alumni APN bisa menjadi rekan, kolaborator dan juga partner yang dapat membantu APN lebih berkembang. beberapa yang sudah berhasil dalam kerja juga sudah bisa menjadi donatur APN. Sr Patricia melanjutkan, dalam jangka waktu tertentu, APN bisa menggelar reuni alumni. Alumni-alumni APN dapat memberikan sharing kiprah mereka di pelbagai bidang.

Kini, prestasi demi prestasi masih dirajut para putri-putri Nazareth. Misalnya, Firma Simanjuntak kelas XI IPS Sekolah Budi Mulia Pematangsiantar. Pada semester pertama dan kedua tahun 2015 ia menjadi juara umum. “Kedisiplinan dan ketekunan dalam belajar tetap menjadi kunci utama un tuk berprestasi,” katanya.

Sr Patricia berharap, anak binaan APN menjadi pribadi yang sukses terlebih menjadi manusia yang semakin manusiawi dan solider. “Karya berjalan atas dasar cinta dan kesetiaan. Saya tetap menjadi teman bagi mereka, merangkul dan mendengarkan mereka dengan tetap membina karakter mereka dengan TTM (tolong, terima kasih dan maaf ),” katanya,

Fr Nicolaus Heru Andrianto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 11 Tanggal 13 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*