Artikel Terbaru

Gerakan 24 Jam Untuk Tuhan

Gerakan 24 Jam Untuk Tuhan
1 (20%) 1 vote

Hal yang sama juga diamini Aloysius Jordy Mariendo. Umat Paroki St Anna Duren Sawit, Jakarta Timur ini merasakan sukacita sesaat setelah menerima Sakramen Tobat. “Seperti tanpa beban dan semakin dekat dengan Tuhan,” kata Jordy. Maka, bagi Jordy, Sakramen Tobat merupakan hal yang penting, apalagi sebelum menyambut Tubuh Kristus dalam perayaan Ekaristi. “Saya semakin dimurnikan, dan merasa lebih layak menerima Tuhan,” imbuhnya.

Jordy pun rutin mengaku dosa, terutama sebelum mengikuti Perayaan Ekaristi. “Karena setiap hari, secara sadar atau tidak, saya pasti melakukan dosa, baik itu dosa yang sama ataupun dosa yang baru. Dengan kesadaran ini saya sebisa mungkin sebelum Misa, mengakukan dosa saya terlebih dahulu.” Bagi Jordy, pengalaman rutin mengakukan dosa memberikan dampak dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi beragam persoalan kehidupan, ia selalu siap sedia bergumul dalam persoalan tersebut. “Mungkin karena selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap persoalan itu, sehingga dimampukan menghadapi segala persoalan.”

Rahmat pengampunan
Sakramen Tobat bisa jadi adalah sakramen yang tidak terlampau populer di kalangan umat. Banyak umat enggan mengayunkan langkah masuk ke bilik pengakuan dosa dan dengan rendah hati berlutut mengucapkan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Apalagi mesti menjalani penitensi yang diberikan bapa pengakuan sebagai silih atas dosa. Malu dan terasa berat. Namun, Marisa, Yacinta, Yonardhi, dan Jordy bisa menjadi contoh, bahwa Sakramen Tobat bukanlah “barang menakutkan”. Melalui Sakramen Tobat, mereka merasakan perubahan dalam sikap iman dan kehidupan sehari-hari. Rahmat pengampunan tak hanya berada dalam bilik-bilik pengakuan, rahmat pengampunan itu mengalir dalam kehidupan keseharian.

Ajakan Paus Fransiskus untuk merayakan “24 Jam untuk Tuhan” dengan menerima Sakramen Tobat layak kita sambut bersama. Mari dengan berani, kita melangkahkan kaki menuju ke bilik-bilik pengakuan dosa yang mungkin telah lama kita tinggalkan. Saat inilah kita merayakan rahmat pengampunan dari Allah.

Y. Prayogo
Laporan: Christophorus Marimin

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*