Artikel Terbaru

TRAG: Taman Hati Kudus di Lereng Sindoro

TRAG: Taman Hati Kudus di Lereng Sindoro
5 (100%) 1 vote

Pada Sabtu 12 Juni 2010, Taro Anggro diresmikan oleh Bupati Wonosobo, H. Abdul Kholiq Arif dan Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ. Hari itu dikenang sebagai hari kelahiran Taro Anggro.

Semakin Dikenal
Taro Anggro terus berbenah dan tambah luas. Perluasan ini didukung oleh salah seorang warga Paroki St Paulus Wonosobo, Elisabeth Setianingsih yang menghibahkan tanah miliknya seluas 900 meter persegi untuk perluasan taman.

Kini, di tempat ini sudah terdapat fasilitas pendukung lainnya sebagai sentra spiritualitas Kongregasi Misionaris Hati Kudus (MSC). Sebuah rumah retret dengan sepuluh kamar juga dibangun. Taro Anggro juga memiliki toko yang menjual benda-benda rohani yang diambil dari Kalasan, Yogyakarta.

Gema Taro Anggro sebagai destinasi ziarah mulai menjalar ke seantero Jawa. Menurut Romo Sumpana, banyak keluarga atau kelompok ziarah yang datang dari Semarang, Bandung, Surabaya dan Jakarta, bahkan ada juga turis asing.

Salah satu peziarah tersebut yaitu Purborini Sulistyo. Wanita asal Paroki Theresia Menteng Jakarta ini sangat terkesan dengan Taro Anggro. Bersama suami dan kedua anak remajanya, ia berziarah ke tempat itu. Baginya, Taro Anggro ideal untuk wisata rohani keluarga. Selain alamnya yang sejuk karena diapit gunung, Taro Anggro juga tertata apik dan rapi. “Mungkin belum seterkenal Sendangsono atau Gua Maria Kerep, tetapi Taro Anggro ideal bagi tempat ziarah.”

Usai ziarah, Purborini dan keluarganya menjajal kuliner di sekitar Taro Anggro. Mereka membeli singkong rebus yang dijual di sekitar taman. Tak jauh dari situ, ada juga restoran yang menjajakan berbagai macam menu. “Waktu kami ke sana belum banyak kios yang menjual oleh-oleh khas Wonosobo. Namun katanya akan segera dibangun bekerja sama dengan masyarakat sekitar,” katanya.

Jack Ferdinand seorang ekspatriat juga memiliki kesan serupa dengan Purborini. Suatu hari pada tahun 2015, keluarganya dari Belanda mengunjungi dia. Mulanya, ia mengajak mereka ke Pulau Komodo dan Nusa Tenggara Barat. Usai dari sana, adik perempuannya ingin mengenal tempat ziarah di Indonesia. Ia pun mengajak mereka ke Taro Anggro. “Sempat juga ke Kerep, tetapi tidak lama. Yang lama, kami di Taro Anggro dan Lembah Karmel,” kata Ferdinand.

Setiap Bulan Maria, pada Mei dan Oktober, taman ini ramai dikunjungi para peziarah. Bahkan ada yang datang dalam rombongan besar. Misal, pada Oktober 2015, sebuah rombongan dari Semarang yang terdiri dari sekitar 700 orang datang berziarah ke tempat ini. Atas dasar itulah, Romo Sumpana berinisiatif memperluas lahan Gua Maria dan menambah jumlah karyawan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*