Artikel Terbaru

TRAG: Taman Hati Kudus di Lereng Sindoro

TRAG: Taman Hati Kudus di Lereng Sindoro
5 (100%) 1 vote

Setiap malam Jumat Pertama di tempat ini diadakan adorasi dan meditasi yang diikuti oleh warga Anggrung Gondok, maupun peziarah yang datang. Perayaan Ekaristi diadakan pada setiap Kamis malam Jumat Kliwon pada pukul 19.00. Sementara Misa mingguan biasanya diadakan setiap Minggu pukul 10.00. Supaya dikenal, Romo Sumpana kemudian membuat berbagai media promosi lewat media blog, facebook, dan juga brosur.

Pemberdayaan Masyarakat
Kini, rangkaian gua, taman adorasi, kapela, rute jalan salib yang dipadu tata taman menjadilandscape yang megah. Romo Sumpana merasa sudah cukup. Satu yang tersisa adalah bagaimana keberadaan Taro Anggro berkontribusi bagi masyarakat Anggrung Gondok.

Untuk itu, dibentuklah Kelompok Sadar Lingkungan dan sarasehan bagi warga Anggrung Gondok. Romo Sumpana mengundang pakar pertanian dari Demak untuk memberikan sarasehan mengenai cara bertani, membuat pupuk kompos, dan penggunaan kompos. “Sebenarnya saya sudah lama memimpikan hal ini, namun baru beberapa bulan ini bisa terlaksana. Saat ini, hubungan kami dan masyarakat sudah menyatu,” katanya.

Nantinya, hasil pertanian masyarakat itu akan dijual di sekitar Taro Anggro. Romo Sumpana sudah berinisiatif untuk mendirikan kios-kios supaya masyarakat bisa membangun perekonomiannya. Selain kios, ada pula lahan yang akan dijadikan tempat parkir. Namun, saat ini Romo Sumpana masih menunggu izin dari masyarakat.

Selain membangun perekonomian dari hasil pertanian, Romo Sumpana akan mengajak masyarakat untuk menyediakan kediamannya sebagai tempat menginap para peziarah. Tentu saja, para peziarah akan memberikan kontribusi untuk biaya perawatan.

Romo Sumpana juga menjadikan Taro Anggro sebagai tempat pengembangan seni dan budaya. Sebuah aula di rumah retret digunakan untuk latihan dan menyimpan gamelan. Setiap orang bisa bergabung di dalamnya. Karena Taro Anggro adalah taman rohani, maka disediakan pula layanan konsultasi rohani dan penyembuhan luka batin. “Kami ingin, agar warga sekitar dan siapapun yang datang ke sini bisa menemukan kedamaian. Itu sesuai spiritualitas kami, baik untuk lingkungan maupun masyarakat,” kata Direktur Sentra Spiritualitas MSC ini.

Anna Marie Happy/Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 10 Tanggal 6 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*