Artikel Terbaru

Manfaat Dongeng bagi Anak

Manfaat Dongeng bagi Anak
1 (20%) 1 vote

Lebih dari sekadar penina-bobok, dongeng dan mendongeng adalah hal dan momen kehidupan yang sangat bermakna bagi kebanyakan anak di seantero dunia. Riset lintas budaya menunjukkan, anak-anak di berbagai belahan dunia dengan beragam latar belakang budaya, rata-rata menyukai dongeng. Melalui dongeng dapat tersampaikan nilai-nilai (sosial, moral, etika, kultural, spiritual, dsb). Anak dapat menikmati rekreasi yang sangat ekonomis (murah), imajinasi dan kreativitasnya terangsang. Dongeng melatih kepekaan estetika, kemampuan berbahasa, logika-mantika anak. Dongeng juga dapat memperkaya pengetahuan maupun informasi tentang berbagai hal yang relevan dengan usia serta perkembangan anak. Dalam hal ini, antara dongeng (sebagai materi) dengan aktivitas mendongeng (yang berkaitan dengan cara dan sikap mendongeng) tidak dapat dipisahkan.

Dongeng yang baik harus memiliki tema tertentu. Tokoh serta alur yang mudah dipahami pikiran anak. Tema dongeng di sini berkaitan dengan misi atau nilai-nilai yang hendak disampaikan. Misalnya, tentang kasih sayang, kepedulian menolong orang lain, empati-solidaritas kepada sesama, keadilan, persamaan gender, pola hidup sederhana, pentingnya keterampilan pemecahan problem/masalah, spirit perdamaian, nilai toleransi, dsb. Tentu saja tema-tema dongeng perlu disesuaikan dengan usia, tingkat pemahaman dan perkembangan anak; baik dalam aspek psikologis, sosial maupun moral.

Terkait dengan tema dongeng adalah tokoh. Tokoh dongeng bisa siapa dan apa pun. Bisa manusia, binatang, tanaman; bahkan benda-benda mati (seperti bulan, bintang, gunung, laut, dsb). Yang penting, tokoh dongeng haruslah menunjang tema dongeng. Selain itu, pada tokoh dongeng perlu disertakan karakteristik tertentu yang disenangi anak-anak: sifat lucu, suka bermain, dan mencoba-coba.

Jika dicermati, dongeng-dongeng anak yang ditayangkan di media (terutama di televisi) serta diproduksi secara massal dalam bentuk VCD dan komik; kebanyakan kurang/tidak mempertimbangkan tingkat pemahaman dan perkembangan anak. Contohnya, film/komikNaruto (dari Jepang) yang sangat menyedot minat anak secara lintas benua-bangsa. Lebih dari 80 % isinya memperagakan aksi kekerasan sang tokoh dalam bentuk-bentuk yang cenderung bombastis.

Bagi pengkaji budaya yang sudah dewasa, film/komik Naruto mungkin bisa dipahami sebagai karya fiksi yang memvisualkan prinsip-prinsip atau nilai-nilai budaya spiritual tertentu. Rentetan aksi tokoh Naruto, yakni ”bertempur, kalah-sementara, dan menang” dalam film/komik itu bermaksud membeberkan pergulatan-batin dalam perjalanan spiritual Naruto. Bisa dipahami, hal itu tentunya tidak/belum sesuai dengan alam pikiran dan perkembangan anak-anak batita, balita bahkan anak remaja fase awal.Yang akan dicerap adalah semata hal-hal yang kasat: agresi dan kesaktian fantastis.

Alur dongeng hendaknya mempertimbangkan alam pikiran dan perkembangan anak. Alur dongeng dari awal, tengah (inti), dan akhir, selain berfungsi mengemas, mengikat, dan mengarahkan dongeng, juga dapat difungsikan sebagai media untuk ”menanamkan” pemahaman, pengalaman mengeksplorasi perasaan serta kesadaran anak mengenai makna tindakan-tindakan konkret tertentu (keterampilan memahami problem, memecahkan problem, keuletan, daya juang, pengendalian emosi, kemampuan membangun relasi kerjasama, dsb).

Dengan itu semua, anak terbantu untuk ”mengalami” medan-medan simbolik kenyataan hidup secara efektif. Sangat tepat pernyataan seorang psikiater anak kenamaan Lawrence Kurtner PhD dari Universitas Harvard, ”Dongeng yang baik sangat efektif dan tanpa memaksa dapat mengajak anak-anak memasuki pengalaman hidup tanpa risiko.”

Cara mendongeng harus dilakukan sedemikian rupa, agar dapat berkesan (impresif) di hati anak. Cara mendongeng yang impresif akan menciptakan suasana/perasaan dekat, serta hangat dalam relasi anak dengan pendongeng. Pendongeng hendaknya mampu membeberkan dongeng dengan seluruh ekspresi detil yang terkandung dalam dongeng (misalnya, gembira, sedih, terkejut, kagum, dsb.) Karena rata-rata anak belajar tentang segala hal dengan cara imitatif (meniru), seorang pendongeng hendaknya mampu menjadi agen/figur yang baik untuk diidentifikasi oleh anak. Karenanya, peran pendongeng akan lebih baik bila dilakukan oleh orangtua. Selamat mendongeng!

H.M.E. Widiyatmadi MPsi

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*