Artikel Terbaru

Mari Menuju Bapa

Mari Menuju Bapa
1 (20%) 1 vote

Rumah Duka
Dalam KHK Kan.1171 §1 dikatakan, “Pemakaman bagi setiap orang beriman yang meninggal dunia harus dirayakan pada umumnya dalam gereja parokinya sendiri.” Gereja punya Tata Perayaan Pemakaman Katolik (Ordo Exsequarium, 22 Januari 1966). Berdasarkan buku itu, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengeluarkan Buku Upacara Pemakaman. Hal paling utama dalam upacara di sekitar kematian adalah Misa Arwah, baik di gereja, rumah duka pribadi atau umum, maupun di pemakaman atau krematorium. Pelayanan Misa ini mestinya mengindahkan situasi dan pertimbangan rohani pastor paroki dan umat beriman. Jika tak dapat merayakan Misa Arwah, petugas awam (asisten imam, prodiakon) sangat dianjurkan melayani upacara di seputar kematian.

Secara prinsip, jangan sampai terjadi diskriminasi. “…Hendaknya diusahakan agar dalam pemakaman jangan ada pandang bulu dan orang-orang miskin jangan sampai tidak diberi pemakaman yang semestinya” (KHK Kan.1181). Rumah duka umum yang bernaung atau bernapaskan iman Katolik, mestinya mengindahkan prinsip ini. Mereka mesti melayani semua orang tanpa pandang bulu. Jatah pelayanan bagi orang miskin harus tersedia. Banyak cara bisa ditempuh untuk mewujudkan prinsip ini, dengan mempertimbangkan beban operasional mereka. Jika fasilitas pelayanan, mulai mempersiapkan jenazah dan peti mati hingga di pemakaman atau krematorium, mestinya kemudahan fasilitas itu juga bisa diakses kalangan bawah. Jangan sampai kebijakan “melulu bisnis” menghilangkan kebijaksanaan Gereja yang harus melayani tanpa pandang bulu.

Pada 15 Agustus 2016, Prefek Kongregasi Doktrin dan Ajaran Iman, Kardinal Gerhard Müller menerbitkan dokumen yang mempertegas bahwa Gereja Katolik tetap menganjurkan untuk menguburkan jenazah. Meski demikian, tidak melarang kremasi, asal tak bertentangan dengan iman Katolik (lih. Instruksi Apostolik Piam et Constantem dari Paus Paulus VI, 8 Mei 1963; KHK Kan.1176 §3; KGK No.2301). Tapi Gereja melarang abu kremasi ditebarkan di udara dan laut, bahkan di permukaan tanah. Pun dilarang memisah-misahkan abu kremasi ke beberapa wadah dan disimpan di rumah pribadi. Tindakan itu dianggap tidak “penuh hormat” memperlakukan pribadi manusia yang sudah menjadi abu. Mestinya abu disimpan dalam guci yang pantas, dikebumikan seperti pemakaman jezanah atau disemayamkan di kolumbarium (rumah abu) atau dibenamkan di dasar laut. Dituntut perlakuan “penuh hormat” kepada orang meninggal, “Kerinduan duniawiku sudah disalibkan…. Di dalam aku, ada air yang hidup dan berbicara, yang berbisik dan berkata kepadaku: Mari menuju Bapa!” (St Ignatius dari Anthiokia)

R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 6 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*