Artikel Terbaru

OMK Animator Gereja

OMK Animator Gereja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Awal Oktober 2016, Indonesia Youth Day (IYD) digelar di Manado, Sulawesi Utara. Pada Juli silam, World Youth Day (WYD) dihelat di Krakow, Polandia. Tahun 2017 nanti, akan diadakan Asian Youth Day (AYD) di D.I. Yogyakarta. Beragam kegiatan disponsori Gereja untuk membangun Orang Muda Katolik (OMK). Apakah OMK sudah merasa memiliki (sense of belonging) Gereja? Ataukah mereka belum mampu menjadi animator dalam Gereja?

Bisa jadi selama ini OMK belum berani menjadi animator (anima=jiwa) dalam Gereja. Banyak kegiatan dilakukan, tapi belum berhasil membangkitkan semangat OMK terhadap Gereja. Karena itu, OMK dipanggil untuk lebih mengenal jati dirinya sesuai yang dikehendaki Tuhan sehingga mereka menjadi handal dan dapat membangun dunia. Faktanya tidak mudah diaplikasikan, sebab globalisasi dan modernisasi membelenggu orang muda.

Meski OMK dilanda berbagai macam krisis, Gereja selalu mengajak OMK untuk kembali ke fitrahnya. Dalam Dekrit tentang Kerasulan Awam (Apostolicam Actuositatem) art.12 dikatakan, “Kaum muda merupakan kekuatan amat penting dalam masyarakat zaman sekarang. Kaum muda dituntut untuk melakukan kegiatan merasul yang sepadan dan menjadi saksi Kristus yang hidup.” OMK merupakan bagian integral dari Gereja dan masyarakat. Bahkan diharapkan agar OMK ikut serta dalam tugas pewartaan Injil. Artinya, OMK menjadi ujung tombak dan pelopor gerakan perubahan (agent of change) dalam Gereja.

Dalam buku “Acuan Orang Muda Katolik Keuskupan Agung Jakarta” yang terbit tahun 2011 diungkapkan arah dan tujuan karya pastoral OMK. Pertama, dimensi Katolisitas. Artinya, OMK bertumbuh dan berkembang dalam pengetahuan dan penghayatan iman Katolik yang baik dan benar. Partisipasi OMK mesti digalakkan dalam pementasan tablo/jalan salib, ziarah, doa Rosario, Ekaristi kaum muda, pendalaman iman dan sharing Kitab Suci.

Kedua, dimensi kematangan manusiawi. OMK menjadi manusia yang utuh, yakni pribadi yang dewasa dalam pola pikir, karakter, emosi, maupun keterampilan-keterampilan manusiawi yang menunjang kehidupannya. Rekoleksi, retret, latihan dasar kepemimpinan, talk show pernikahan beda agama, dsb, dilakukan untuk makin mematangkan sisi manusiawi OMK.

Ketiga, dimensi persaudaraan (koinonia). OMK sanggup menghidupi persaudaraan dalam tubuh OMK maupun ke luar dengan segenap umat beriman, masyarakat, dan alam ciptaan. Pun ikut serta dalam tugas-tugas liturgi, seperti kor, tata tertib, kolektan, dan camping rohani di mana OMK belajar untuk mencintai lingkungan hidup.

Keempat, dimensi kesaksian (martyria). OMK mampu tumbuh dan berkembang menjadi saksi cinta kasih dan persaudaraan dalam tubuh OMK, lingkungan, serta di tengah masyarakat. Misal, mereka terlibat dalam pembagian sembako, bakti sosial, donor darah, dsb.

Itulah beberapa visi dalam pembinaan OMK. Harapannya, OMK mampu diarahkan agar semakin menjadi saksi Kristus yang otentik. Maka, OMK dipanggil untuk selalu belajar pada Yesus, sang teladan bagi orang muda. Yesus percaya akan potensi orang muda. Dia mengadakan seleksi ketat atas beberapa orang muda untuk menjadi pemimpin bagi Gereja-Nya. Hal ini memperlihatkan kepercayaan-Nya akan potensi orang muda itu (Mat 19:16-26; Yoh 6:1-15).

St Yohanes Paulus II, “Paus Orang Muda”, meyakinkan kaum muda bahwa “tak satupun dari orang muda dianggap orang asing di dalam Gereja. Dalam Gereja ada tempat untuk semua orang. Bahkan jika mereka memberikan kritik, maka kritik mereka tetap merupakan kritik yang konstruktif” (Surat kepada kaum muda dalam persiapan Yubileum Agung Tahun 2000).

Dalam penutupan World Youth Day (WYD) di Pantai Copacabana, Rio de Janeiro, Brazil, Juni 2013, Paus Fransiskus dengan tegas menyerukan agar OMK berani pergi keluar dan menyebarkan Injil kepada mereka yang tampak jauh dari Tuhan dan acuh tak acuh, serta melayani masyarakat terpinggirkan. Gereja membutuhkan antusiasme, kreativitas dan sukacita yang begitu khas dari OMK. Sri Paus mengandalkan OMK untuk menjadi “rasul-rasul misionaris”.

Kiranya OMK mampu menjadi animator (penggerak) Gereja, menjadi “rasul-rasul misionaris” dalam dunia. Meminjam kata-kata St Katarina dari Siena (1347-1380), “Be who God meant you to be and you will set the world on fire.” Semoga terwujud!

Andreas Satur OFM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 45 Tanggal 6 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*