Artikel Terbaru

Menabur Harapan di Tanah Terberkati

Menabur Harapan di Tanah Terberkati
1 (20%) 1 vote

Serdadu Spanyol berhasil menundukkan Bangsa Indian, maka gelombang misi pun bergulir. Fransiskan datang tahun 1524; disusul Dominikan tahun 1526, Agustinian tahun 1533, dan 40 tahun kemudian, Jesuit ikut bermisi. Mereka berusaha mempelajari bahasa dan budaya Aztec. Usaha itu berhasil dan banyak orang akhirnya dibaptis. Baru 11 tahun misi dibuka, Gereja sudah berhasil mendirikan keuskupan. Suku Aztec pun kian banyak yang dibaptis.

Salah seorang baptisan baru itu bernama Juan Diego Cuauhtlatoatzin (14741548), seorang petani berusia 50 tahun yang hidup menduda dan tinggal di Desa Tolpetlac, dekat Guauhtitlan, Meksiko. Sebagai Katolik anyaran, ia rajin mengikuti Misa. Pada Sabtu pagi-pagi buta, 9 Desember 1531, ia sudah berangkat ke Tlatelolco untuk mengikuti Misa. Di Bukit Tepayac, ia mendengar suara perempuan bernyanyi. Di sekitar tempat itu, tiba-tiba awan menjadi putih dan muncul pelangi. Lalu, sinar muncul dari awan itu dan di sana terlihat seorang perempuan cantik dengan pakaian keemasan. Perempuan itu memintanya untuk menghadap Bapa Uskup dan menginginkan agar di tempatnya menampakkan diri dibangun sebuah gereja untuk menghormatinya. Itulah penampakan Bunda Maria dari Guadalupe.

Juan begitu takut bertemu uskup karena status sosialnya. Namun, karena dorongan iman kuat, ia memberanikan diri menghadap pada hari berikutnya. Juan pun mengisahkan perjumpaannya dengan Bunda Maria kepada Uskup Meksiko kala itu, Mgr Juan de Zumarraga OFM (14681548). Uskup pertama Meksiko itu memintanya membuktikan kebenaran ceritanya.

Pada 12 Desember 1531, Bunda Maria menampakkan diri lagi kepada Juan. Ia mengajak Juan mendaki bukit gersang. Aneh, ternyata bukit itu sudah dipenuhi bunga mawar. Bunda Maria memetik mawar-mawar itu dan menyelipkannya di lipatan tilma Juan. Tilma adalah mantol kasar khas bangsa Indian di Meksiko. Juan menghadap lagi Mgr Zumarraga. Di hadapan uskup, ia membuka mantolnya dan mawar-mawar itu pun berjatuhan. Tak disangka, di mantolnya sudah tergambar Bunda Maria yang berpakaian layaknya orang Indian.

Mgr Zumarraga segera berlutut dan menyesali keraguan dirinya. Lukisan itu berukuran kira-kira 1,5 meter. Setelah diadakan penelitian khusus terhadap peristiwa iman ini, akhirnya Paus Pius XII menetapkan Bunda Maria dari Guadalupe menjadi Ratu Orang Amerika pada 12 Oktober 1945. Kini, lukisan itu diletakkan di Gereja Katedral St Perawan Maria dari Guadalupe yang dibangun tahun 1977. Bunda Maria dari Guadalupe sebenarnya menampilkan dua kebudayaan, Spanyol dan Aztec. Ia merepresentasikan “Mestizo” perpaduan dua bangsa (mixed race). Kala memimpin Misa di Guadalupe, Paus Fransiskus menekankan kehadiran Bunda Maria di Negeri Tortila itu. Maria Guadalupe hadir karena Bumi Meksiko adalah tanah yang terberkati. Ia menginginkan dan mengajak anak-anaknya melindungi Meksiko dari berbagai penyakit sosial, seperti kekerasan, narkotika, kemiskinan, penindasan, korupsi, dll. Lewat St Juan Diego, Sang Bunda membangkitkan harapan orang kecil dan melayakkan mereka mendiami tanah yang telah diberkati ini.

Makna Kehadiran
Pesan senada disampaikan Bapa Suci dalam Misa di Pusat Studi Ecatepec, Meksiko Utara, Minggu, 14/2. Ia merefleksikan tiga godaan Yesus, yang juga dialami umat, yaitu kekayaan, kesombongan, dan kekuasaan. Inilah faktor penghalang manusia dekat dengan Allah. Maka dalam Masa Prapaskah ini, Paus mengajak umat Meksiko mengubah hidup agar kian mengarah kepada Kristus, sekaligus memulihkan sukacita dan harapan yang hilang. “Sebab Allah tidak harus menjadi ayah tiri bagi Anda,” ujarnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*