Artikel Terbaru

Pengalaman dan Harapan Mantan Anggota

Pengalaman dan Harapan Mantan Anggota
1 (20%) 1 vote

Ketika ia menjabat sebagai pengurus, ia biasa mengadakan kegiatan seperti perayaan Ekaristi pembukaan dan penutupan tahun Akademik, Ziarah, Natal, Paskah, dan Rekoleksi bersama-sama. Bersama Kedutaan Indonesia untuk Vatikan, IRRIKA juga menggelar acara khusus seperti ketika Pemilu. Dalam acara itu para anggota IRRIKA ditunjuk menjadi Panitia Pemungutan Suara.

Ketika KBRI menggelar acara-acara seni budaya, IRRIKA menjadi pendukung kegiatan-kegiatan ini. Selain kegiatan-kegiatan di atas, setiap awal tahun akademik, pengurus IRRIKA menerbitkan Buku Panduan yang berisi daftar nama, alamat, dan nomor kontak anggota supaya para rohaniwan yang tinggal di seluruh Italia boleh saling berkomunikasi satu sama lain lewat sarana komunikasi telepon ataupun lewat mailing list IRRIKA. Romo Steven berharap supaya IRRIKA bisa lebih berkembang menjadi mitra gereja Indonesia dan Kedutaan Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan.

Kegiatan bersama
Sr Gratiana PRR tinggal di Roma dari tahun 1997 hingga awal 2003. Setelah bergabung di IRRIKA biasanya setiap bulan ia ikut kegiatan bersama IRRIKA seperti Misa, Natal bersama, rekreasi bersama di rumah Kedutaan Besar Indonesia untuk Vatikan. “Kadang juga ada kegiatan yang bagus, seperti diskusi dan ceramah,” tutur lulusan Universitas Santo Thomas Aquinas-Angelicum, Roma (2003)

Selama ikut IRRIKA kegiatan yang menyenangkan baginya adalah kegiatan bersama di Kedutaan. Kadang-kadang di beberapa collegio seperti ditempat SVD, ada Misa, ada makan bersama dan berbagi informasi yang disampaikan. “Waktu itu belum banyak orang Indonesia seperti sekarang ini. Yang menarik adalah bertemu orang Indonesia, komunitas di Italia, makanan-makanan Indonesia.”

IRRIKA bagi Sr Gratiana memberi kesempatan untuk menanggapi isu-isu yang berasal dari Tanah Air, seperti persoalan kemerdekaan Timor Leste, kerusuhan di Jakarta (1998) dan konflik di Ambon. “Hal-hal seperti ini kami dengar. Kami menanggapinya dengan Misa, diskusi bersama dan ceramah. Seingat kami ya, kami pernah demo terkait perlakuan terhadap orang Tionghoa di Jakarta pada waktu itu,” ujar biarawati kelahiran Noemuti, NTT, 3 Oktober 1962.

A. Nendro Saputro
Laporan: A. Aditya Mahendra dan Maria Pertiwi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 8 Tanggal 21 Februari 2016

 

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*