Artikel Terbaru

Menabur Benih Panggilan di Metropolitan

Menabur Benih Panggilan di Metropolitan
1 (20%) 1 vote

“Kami hanya menabur. Panennya entah kapan, hanya Tuhan yang tahu. Ibarat benih, setelah ditabur, tugas kami merawat benih itu. Biarkan ia bertumbuh dan pada akhirnya menghasilkan buah. Begitu pula dengan panggilan. Kami mengadakan macam-macam kegiatan hari ini, hasilnya suatu saat nanti, entah kapan,” kata Romo Wartaya.

Paguter
Di Paroki Tangerang terdapat komunitas yang mewadahi orangtua para imam, suster, frater, dan seminaris. Komunitas ini diberi nama Paguyuban Orangtua Terpanggil (Paguter). Dimas menjelaskan, Paguter cukup efektif sebagai wadah bagi para orangtua romo, suster, frater, dan seminaris untuk berjumpa, berbagi pengalaman, dan mendoakan anak-anak mereka.

Pada Natal 2015 yang lalu, anggota Paguter dan para seminaris asal Paroki Tangerang diundang makan siang bersama romo paroki. “Kami tidak bermaksud membangga-banggakan orangtua para imam dan biarawan-biarawati. Yang ingin kami lakukan adalah menghargai orangtua atau keluarga yang sudah memberikan putra-putrinya untuk melayani Gereja lewat jalan panggilan khusus ini,” ujar Dimas. Sementara Romo Wartaya berpendapat, berkenalan dengan anggota Paguter juga merupakan cara lain menciptakan iklim penunjang panggilan hidup membiara.

Paroki Tangerang juga memberikan bantuan dana pendidikan bagi para seminaris dari keluarga kurang mampu. Sekarang dua seminaris dibantu Paroki Tangerang. Bantuan itu datang dari individu atau keluarga tertentu. Bantuan pendidikan bagi seminaris dan calon imam ini bisa menjadi bagian tugas Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) atau bisa diikutsertakan dalam program Ayo Sekolah Ayo Kuliah. “Jangan sampai hanya alasan ekonomi panggilan jadi biarawan-biarawati gagal!” kata Romo Wartaya menegaskan.

Peran romo
Paroki Keluarga Kudus Rawamangun, Jakarta Timur juga menjadi salah satu paroki yang subur panggilan. Dari data yang dimiliki Seksi Panggilan Paroki Rawamangun per Mei 2015, tercatat paroki ini telah menghasilkan 18 umat yang sedang menjalani panggilan khusus. Paroki ini telah menyumbang tujuh imam.

Menurut Ketua Seksi Panggilan Paroki Rawamangun Josephine Novia, situasi paroki yang mendukung panggilan ini tak bisa lepas dari peran umat. Di paroki ini juga ada Paguter yang memiliki peran mendukung tumbuh kembang bibit panggilan. “Selain itu, peran romo paroki juga sangat penting. Romo di paroki adalah panutan anak-anak dan orang muda Katolik,” ujar ibu yang seorang anaknya sedang menempuh pendidikan di Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan, Jawa Tengah ini.

Seksi Panggilan paroki ini memiliki trik tersendiri untuk menggaet benih-benih panggilan. Mereka bekerja sama dengan sekolah-sekolah Katolik yang berada di wilayah paroki ini. Seksi Panggilan mengajak guru agama di sekolah-sekolah tersebut untuk ikut mengenalkan kehidupan panggilan khusus, entah sebagai imam, suster, atau bruder. “Pengenalan panggilan sejak dini sangat penting,” ujar Novi. Selain itu, anak-anak melalui sekolah atau komunitas Misdinar, secara berkala diajak mengunjungi seminari dan biara-biara yang berada di Jakarta maupun luar Jakarta. Tidak hanya anak-anak, Seksi Panggilan Paroki Rawamangun juga menyasar orangtua, karena orangtua menjadi salah satu faktor penentu dan pendukung panggilan anak-anak.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*