Artikel Terbaru

Beato Paulus Pak Gyeong Hwa (1757-1827): Mati Demi Kristus

Beato Paulus Pak Gyeong Hwa (1757-1827): Mati Demi Kristus
3 (60%) 2 votes

Diam-diam Gyeong Hwa mengamati bahwa meski dianiaya, umat Katolik tidak pernah membalas dengan kekerasan, melainkan setia berbuat kasih. Hal ini membuatnya gelisah. Ia mulai menimbang antara tetap pada kepercayaan yang ia geluti selama ini atau memeluk keyakinan baru sebagai seorang Katolik. Dalam sebuah refleksinya, Gyeong Hwa menemukan bahwa kasih adalah kebenaran universal yang selama ini ia cari. Meski mulai mendalami kekatolikan, ia tak melupakan etika Konfusianisme. Ia tetap mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, tapi ia menolak menjadikan Konfusianisme sebagai kepercayaannya. Ia pun berbulat hati ingin masuk Katolik.

Memperdalam Iman
Keputusannya berpindah agama tak mudah diterima keluarga. Sebagai keturunan darah biru, sang ayah menentang keras keputusan putranya. Gyeong Hwa pun segera dinikahkan dengan seorang putri bangsawan. Tujuannya, pernikahan dengan gadis yang berlatar belakang Konfusianisme, akan membuatnya melupakan ajaran Katolik. Namun di luar dugaan, gadis itu justru mendukung Gyeong Hwa menjadi Katolik. Dari hasil pernikahannya, lahirlah tiga anak. Salah satunya adalah Andreas Pak Sa-ui (1792-1839), yang di kemudian hari juga dibeatifikasi sebagai martir karena mempertahankan imannya dalam penganiayaan di Daegu, Gyeongsang-do.

Melihat tekad bulat Gyeong Hwa untuk memeluk Katolik, keluarga besar makin berang. Mereka bekerjasama dengan pemerintah untuk memenjarakan Gyeong Hwa. Karena tak ada bukti, Gyeong Hwa dilepaskan. Kesempatan itu ia pakai untuk semakin memperdalam pengetahuannya tentang kekatolikan.

Demi misinya, Gyeong Hwa bersama keluarga kecilnya meninggalkan kampung halaman. Dalam perjalanan, ia menerima kabar bahwa ada misionaris yang diutus Uskup Agung Beijing Mgr Alexandre de Gouvea TOR (1751-1808) untuk bermisi di Korea. Ia lalu pergi mencari Pater James Zhou Wenmo (1752-1801) yang saat itu dalam perjalanan dari Liao-dong menuju Gyedong. Setelah bertemu Pater James, Gyeong Hwa minta dirinya dibaptis saat usianya 33 tahun, dengan nama baptis Paulus. Pater James menghadiahinya sebuah buku katekismus yang ia tulis sendiri dalam bahasa Korea. Berbekal buku itu, Gyeong Hwa menjadi katekis di Gyedong selama kurang lebih 30 tahun.

Kesaksian Hidup
Kala berusia 60 tahun, Gyeong Hwa bersama keluarganya pindah ke Gamagi di Danyang, Chungcheong-do. Di sana sedang terjadi “penganiayaan Jeonghae” tahun 1827. Banyak umat Katolik hidup dalam kecemasan. Tapi Gyeong Hwa tak pernah gentar. Ia malah tampil sebagai penyemangat bagi umat. Setiap hari ia mengajak umat berdoa Rosario dan menguatkan mereka agar tabah menanggung aneka cobaan. Berbekal katekismus hadiah Pater James, ia berpesan, “Mari bersyukur kepada Tuhan karena kita telah diberikan kesempatan untuk menerima Dia”.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*