Artikel Terbaru

Beato Paulus Pak Gyeong Hwa (1757-1827): Mati Demi Kristus

Beato Paulus Pak Gyeong Hwa (1757-1827): Mati Demi Kristus
3 (60%) 2 votes

Dari Danyang, Gyeong Hwa pindah ke Meongemok di Sangju, Gyeongsangdo. Dalam perjalanan itu, ia bersama keluarganya dan beberapa umat Katolik ditangkap oleh mata-mata Gubernur Daegu dan digiring ke Sangju. Gyeong Hwa dianggap paling bertanggungjawab terhadap penyebaran ajaran Katolik. Ia lalu dijebloskan ke dalam penjara bersama beberapa umat. Di sana, ia disiksa dan tak diberi makan selama tiga hari. Namun ia menjalani semua derita itu dengan ikhlas. Di tengah deraan, ia selalu berseru, “Walaupun tubuhku tanpa kepala, jiwaku tetap menuju Tuhan”.

Selanjutnya, anak-anak dibebaskan dari penjara, termasuk Andreas, putra Gyeong Hwa. Sementara orang dewasa kian sengit disiksa. Selama dipenjara, Gyeong Hwa dipaksa mengingkari imannya dengan iming-iming akan dibebaskan. Dengan tegas, semua tawaran ia tolak. Ia justru kian teguh memegang imannya. Alhasil, ia lalu diisolasi dalam penjara yang dirancang khusus selama tiga hari tanpa makan dan minum. Meski dipaksa berulang kali agar melepaskan imannya, Gyeong Hwa bergeming. Hal ini membuat para sipir naik pitam.

Sehari sebelum dipenggal kepalanya, Gyeong Hwa memanggil istri dan para pengikutnya, lalu berpesan, “Sadarlah bahwa penjara ini adalah surga. Dan jika kita mati, ingatlah, kita mati bersama Yesus Kristus.” Ia lalu dieksekusi mati. Sebuah kapak terayun dan menebas lehernya. Ia wafat sebagai martir pada 15 November 1827, pada usia 70 tahun.

Tahun 2004, Konferensi Para Uskup Korea (Catholic Bishops’ Conference of Korea, CBCK) mengajukan proses penggelaran kudus Paul Yu Jin-Chung bersama 123 martir Korea lainnya, termasuk Gyeong Hwa dan putranya, Andreas Pak Sa-ui. CBCK membentuk komisi khusus dan berulang kali menghelat pertemuan dengan agenda penyelidikan proses penggelaran kudus yang dipimpin Sekretaris CBCK sekaligus Uskup Auksilier Daejeon, Mgr Agustinus Kim Jong Soo. Pada 7 Februari 2014, Kongregasi Penggelaran Kudus akhirnya mendapat restu Paus Fransiskus untuk membeatifikasi 124 martir Korea–yang di dalamnya terdapat nama Paulus Pak Gyeong Hwa dan putranya, Andreas Pak Sa-ui.

Misa Beatifikasi 124 martir Korea ini dipimpin langsung oleh Paus Fransiskus ketika berkunjung ke Korea (13-18 Agustus 2014). Kunjungan apostolik itu bertepatan dengan perhelatan Asian Youth Day ke-6 di Seoul, Korea Selatan. Misa digelar di Gwanghwamun Gate, Gyeongbokgung di Jongno-gu, Seoul, Korea Selatan, 16 Agustus 2014. “Inilah tanda bahwa tubuh tetap hancur, tetapi iman akan selalu hidup agar Gereja pun selalu tetap hidup,” demikian pesan Bapa Suci dalam Misa Beatifikasi itu.

Yusti H.Wuarmanuk

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 46 Tanggal 13 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*