Artikel Terbaru

Stop Korupsi

Stop Korupsi
Mohon Beri Bintang

Realitas koruptif semacam itu dapat kita temukan dalam seluruh Kitab Amos, dalam kehidupan sosial politik ekonomi yang ada di balik peran pemungut cukai, orang-orang Saduki yang menguasai (perdagangan di) Bait Allah, dalam peristiwa pengadilan Yesus, dalam kisah Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul, dan yang lain.

Adakah dasar biblis yang dapat dijadikan titik pijak bagi Gereja untuk mencegah korupsi?
Tindakan koruptif dapat disebabkan antara lain oleh karena orang tidak mempunyai penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini tentu menyangkut keadilan sosial yang belum terwujud. Maka jawaban terhadap keadaan ini adalah memastikan agar kesejahteraan sosial bagi seluruh warga masyarakat terwujud. Alasan yang kedua adalah keserakahan. Ini tentu saja menyangkut watak atau karakter, bisa budaya, sistem politik dan ekonomi, kesadaran moral dan suara hati yang lemah atau malahan rusak. Realitas korupsi amatlah kompleks. Komisi Pemberantasan Korupsi telah menerbitkan buku saku untuk memahami korupsi dari sudut pandangan Kristiani. Silakan mencari di internet. Doa yang amat biblis, “Datanglah Kerajaan-Mu”, dengan segala macam penjelasannya dapat dijadikan dasar biblis yang amat kokoh untuk mengembangkan gerakan anti korupsi.

Apa harapan Mgr Suharyo untuk Gereja supaya ikut memberantas korupsi?
Sejak 1990-an, KWI sudah banyak berbicara mengenai korupsi dan ajakan untuk melawannya. Tetapi harus diakui bahwa ajakan itu belum ditanggapi secara memadai. Semoga kali ini, ajakan untuk stop korupsi menjadi gerakan yang melibatkan seluruh umat Katolik di Indonesia.

Selain itu, dalam berbagai kesempatan KWI berbicara mengenai komunitas alternatif, komunitas kontras. Di balik istilah-istilah itu terkandung harapan antara lain agar lembaga-lembaga gerejawi secara radikal berusaha dengan sungguh-sungguh menegakkan Kerajaan Allah, dalam segala kekayaan maknanya.

Kalau harapan ini semakin terwujud, dengan sendirinya di dalam Gereja sendiri tindakan koruptif akan semakin berkurang. Dengan demikian Gereja akan menjadi komunitas kontras; artinya di tengah-tengah tindakan koruptif yang semakin sistemik, terstruktur, dan dinamis, Gereja tampil sebagai komunitas yang bersih dan terpercaya. Perlu terus dicari jalan-jalan kreatif untuk mewujudkan harapan itu.

Stefanus P. Elu

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 47 Tanggal 20 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*