Artikel Terbaru

Maria de Sousa Mariano: Melampaui Batas Raga

Maria de Sousa Mariano: Melampaui Batas Raga
1 (20%) 1 vote

Anak kedua dari empat bersaudara ini tak mendapat perlakuan spesial dari keluarganya. Ia dilatih mandiri, bahkan diasah untuk mengelola bisnis warung telepon milik keluarganya. “Orangtua bilang, kamu itu laki-laki, jadi harus mandiri,” kisah pemuda berdarah Timor-Jawa ini.

Di Kota Gudeg, Tete bergabung di Mangun Makaryo, komunitas untuk disabilitas. Di sana ia menyaksikan potret hidup kaum difabel. Tete bercerita, sebagian difabel enggan untuk keluar dari komunitas karena takut diremehkan. Hal ini kerap membuatnya miris. Ia berpikir keras bagaimana membebaskan kaumnya dari zona ketakutan.

Membebaskan Kaum
Selepas SMA, penggemar berat klub sepakbola Paris Saint-Germain ini ingin kuliah komunikasi politik. Orangtuanya menyarankan Tete belajar bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) LIA. Tete patuh, namun ia tak pernah serius belajar. “Saya tak berminat,” ujarnya.

Tete hanya sampai semester dua di sana. Orangtuanya memaklumi. Lepas kuliah ia menemukan ruang untuk berpolitik. Pada 2003, Tete bergabung dengan partai politik. Ia menjadi salah satu penggerak di tingkat kelurahan dan kecamatan. Pada 2008, ia diangkat menjadi Pemimpin Dewan Pimpinan Ranting Tingkat Kelurahan. Kata Tete, ia satu-satunya yang muda, Katolik, dan difabel. “Melalui politik, saya ingin memperdengarkan kepada dunia suara-suara yang tak terdengar dari difabel,” tukasnya.

Tete juga terlibat aktif di kegiatan Orang Muda Katolik (OMK). Ia pernah menjabat Wakil Ketua OMK Lingkungan St Thomas Rasul dan Wilayah II Paroki Jetis. Tete juga sempat menjadi Wakil Ketua Karang Taruna tingkat Rukun Tetangga. “Keaktifan saya di OMK berbuah tiket khusus dari Keuskupan Agung Semarang untuk mengikuti IYD (Indonesian Youth Day-Red) di Sanggau 2012.”

Pada kegiatan akbar orang muda se-Indonesia itu, Tete menjadi satu-satunya OMK disabilitas. Bahkan ia memiliki sesi khusus untuk memperkenalkan dunia disabilitas kepada OMK dan orangtua di paroki tempatnya live in. Begitu juga ketika Tete mengikuti IYD Manado 2016. Di IYD Manado, ia mewakili Paroki St Stefanus Cilandak, Keuskupan Agung Jakarta.

Melalui IYD, Tete ingin menyadarkan OMK dan orangtua bahwa memiliki anak atau saudara disabilitas bukanlah kutukan. “Kalian adalah orang pilihan karena Tuhan mempercayakan difabel ada di tengah kalian,” ungkapnya.

Penolakan, katanya, amat menyakitkan. Tete pernah jatuh cinta, namun ditolak. “Ia tak bisa melihat hati saya yang tulus mencintai, tetapi melihat keterbatasan fisik. Meski terlahir sebagai miliarder pun, ia akan tetap melihat fisik saya.”

Ditolak oleh sang gadis, Tete coba menembak sesama disabilitas. Gadis itu tunadaksa. Namun, ia lagi-lagi ditolak lantaran beda agama. “Saya ini minoritasnya doubel, sebagai difabel dan Katolik,” ujarnya.

Tete (keempat dari kiri) bersama peserta IYD Manado 2016 dari Keuskupan Agung Semarang. [NN/Dok.Pribadi]
Tete (keempat dari kiri) bersama peserta IYD Manado 2016 dari Keuskupan Agung Semarang.
[NN/Dok.Pribadi]

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*