Artikel Terbaru

Maria de Sousa Mariano: Melampaui Batas Raga

Maria de Sousa Mariano: Melampaui Batas Raga
1 (20%) 1 vote

Pada 2015, Tete hijrah ke Jakarta. Keputusan itu membuat dilematis keluarganya. Orangtua Tete sudah menyiapkan modal usaha. Namun bagi Tete, seberapa besar pun modal, bila belum dapat feel, sia-sialah modal itu. “Saat di Yogyakarta, saya menggeluti multilevel marketing. Di sana saya belajar mengenai tantangan. Jiwa saya suka tantangan,” tukas pemuda yang hobi membaca ini.

Tiba di Jakarta, Tete tinggal di rumah kakeknya yang terkenal disiplin. Keluarganya di Yogyakarta menyeletuk, ia takkan tahan. Namun di luar dugaan, Tete berhasil mengikuti ritme disiplin sang kakek.

Bulan ketiga, Tete pindah ke Wisma Chesire Cilandak, Jakarta, tempat pelatihan untuk tunadaksa. Wisma Chesire, urai Tete, mencetak mental difabel sesuai potensi masing-masing sehingga bisa bekerja. “Saat ini, ada tiga teman saya pengguna kursi roda jadi karyawan Bank Indonesia.”

Tunadaksa yang mendaftar ke Wisma Chesire harus membuat biodata lengkap layaknya melamar pekerjaan. Pemimpin Wisma Chesire kagum dengan biodata Tete. Ia dianggap difabel dengan mobilitas tinggi. “Saya langsung diangkat jadi Asisten Manager Administrasi,” ujarnya. Di Wisma Chesire, ia juga ditunjuk menjadi motor Young Voice Indonesia. “Itu program Wisma Chesire untuk menjembatani semua jenis disabilitas. Saya EO atau penggeraknya,” imbuh Tete.

Tete kian menemukan ruang untuk mengkampanyekan kepedulian pada kaum difabel. Ia pernah diundang British Council untuk berbagi pengalaman dan pendapat tentang dunia disabilitas.

Dipakai Tuhan
Tak hanya itu, aktivitas politiknya terus berjalan. Baru-baru ini ia terlibat dalam sebuah kampanye politik Pilkada DKI Jakarta. Dari atas panggung, ia memperkenalkan diri sebagai aktivis OMK dan difabel. Tete tegas mengatakan, keterlibatannya dalam politik tidak ditunggangi siapapun. “Saya ingin menjadi politisi untuk membebaskan difabel dari diskriminasi,” tekadnya.

Meski giat membebaskan difabel dari diskriminasi, ia tetap menyediakan waktu untuk kegiatan rohani. Ia aktif ikut kor dan Legio Mariae. Tete juga ikut Kursus Evangelisasi Pribadi. Tete bertekad akan melakukan apapun untuk kepentingan para penyandang disabilitas. “Saya merasa selalu dipakai Tuhan untuk menghibur sesama difabel,” demikian Tete.

Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 47 Tanggal 20 November 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*