Artikel Terbaru

Martinus Rato Helmon: Motor Pembangunan Desa

Martinus Rato Helmon: Motor Pembangunan Desa
1 (20%) 1 vote

Tamat seminari menengah, pada 1998, Martin masuk Kongregasi Hati Tak Bernoda Maria (Congregatio Im maculati Cordis Mariae/CICM). Ia pun menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Dri yarkara Jakarta. Di STF Driyarkara, ia semakin mengasah bakat di bidang musik. Namun ia tetap menjaga keseimbangan antara selera bermusik dan prestasi akademik.

Martin bercerita, memasuki milenium 2000, muncul pergolakan dalam dirinya; antara lanjut menempuh panggilan selibat atau berhenti. Meski berat hati, Martin memutuskan untuk keluar dari CICM. Pria kelahiran 7 Agustus 1978 ini mengaku, keputusannya mundur membuat orangtuanya kecewa.

Keluar dari biara mengharuskan Martin memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah. Di titik inilah, bakat musiknya menjelma menjadi pundi-pundi uang. Hampir setiap gereja di Keuskupan Agung Jakarta menjadi “panggung” mata pencahariannya. “Kalau mengiringi musik di gereja, ada yang kasih amplop, ya saya kumpulkan buat bayar kos dan kuliah,” kisah suami Melda Flora Fio Br. Sijabat ini.

Martin juga tak malu “menjual suara” naik turun bus kota bersama anak-anak jalanan. Ia juga menciptakan lagu-lagu rohani dan menuai pundi royalti. Selain itu, ia juga melakukan bisnis serabutan, menjual barang, seperti sembako, hingga besi tua.

Tetap Melayani
Meski mundur dari biara, langkah Martin untuk menyelesaikan studi tak surut. Malah ia semakin menggebu untuk segera selesai. Pada 2002, ia menyelesaikan studi. Martin ingin menjadi wirausahawan. “Saya pernah baca, ‘Salah satu hal paling bahagia hidup di bumi menjadi wirausahawan, menjadi bos untuk diri sendiri’. Itu yang saya pegang,” ujarnya.

Pikiran itu membawa Martin pada kenangan akan kampung halaman, padahal ia tahu peluang untuk bisnis di Jakarta sangatlah besar. Martin berpikir bagaimana supaya masyarakat di desanya bisa berdaya dan mandiri secara ekonomi. September 2006, Martin pulang kampung. Ia mulai menggerakkan masyarakat di desanya untuk berwirausaha dengan cara yang paling mudah, yakni menabung seribu rupiah per hari. “Saya bawa dalam doa. Dalam diri saya berkata: Jika ingin usaha ini berhasil, luangkan Misa pagi setiap hari,” ungkapnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*