Artikel Terbaru

St Inocencia dari Guadalajara (1771-1786): Jadi Martir di Tangan Sang Ayah

St Inocencia dari Guadalajara (1771-1786): Jadi Martir di Tangan Sang Ayah
2.3 (46.67%) 3 votes

Sebagai bangsawan, sang ayah juga tak terlalu memperhatikan iman si buah hati. Dirinya memang seorang Katolik asal Meksiko, yang masih mempraktikkan penyembahan kepada dewa-dewi. Status sosial tinggi membuatnya tak terlalu peduli soal agama. Karena itu, sang ayah berharap, Inocencia tak harus memikirkan soal iman karena yang paling penting adalah bisa menjadi putri bangsawan termasyur.

Sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang setia menjalankan kewajibannya. Ia seorang Kristiani sejati, meski juga tak bisa berbuat banyak menghadapi tabiat suami. Karena itu, sang ibu selalu menasihati putrinya agar setelah dewasa, Inocencia bisa memilih agama yang akan ia anut. Soal kekatolikan, ia banyak belajar dari para suster di sekolah.

Di sekolah, Inocencia mendengar banyak cerita dari teman-temannya soal Komuni Pertama. Ia jadi penasaran dan mulai bertanya kepada teman-teman yang sudah menerima Komuni Pertama. Jawaban yang sering ia peroleh, “Ketika kamu menerima Yesus dalam rupa hosti, semua terasa indah. Seakan Anda berada di surga bersama para malaikat”.

Komuni Terakhir
Rasa penasaran Inocencia terjawab ketika ia menanyakan soal Komuni Pertama kepada seorang suster. Penjelasan dari suster tersebut membuat hati Inocencia menggebu-gebu. Ia ingin sekali menerima komuni. Maka ia pun memberanikan diri minta kepada suster untuk mengikutsertakannya sebagai katekumen. Saat itu, ia berumur 15 tahun.

Ternyata suster mengabulkan permintaannya. Ia begitu bergembira karena akan menerima Komuni Pertama. Namun di luar dugaan, sang ayah tahu niat anaknya. Sang ayah lalu menyuruhnya untuk membatalkan niat itu. Ketika tiba harinya ia akan dibaptis dan menerima Komuni Pertama, sang ayah menguncinya di kamar supaya ia tidak berangkat ke sekolah.

Berkat sang bunda, Inocencia akhirnya kabur dan pergi ke sekolah untuk mempersiapkan diri dibaptis dan menerima Komuni Pertama. Hatinya tambah berbunga-bunga kala ia mendapat hadiah berupa gaun putih dari suster yang mempersiapkannya menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi. Ia bersaksi, “Sekarang aku telah mengenal Yesus dan akan selalu mencintai-Nya”. Ia lalu berjanji di hadapan patung Bunda Maria. Bila sudah cukup umur, ia akan menjadi biarawati.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*