Artikel Terbaru

Pelayan yang Setia dan Rendah Hati

Pelayan yang Setia dan Rendah Hati
1 (20%) 1 vote

Di mata Romo Purwatma, sejak dulu Mgr Suharyo dikenal sebagai sosok yang kalem tetapi tegas, meneguhkan teman yang lain, dan senang memberi pertimbangan. “Ia pun selalu melihat sisi positif dari orang lain. Ketika harus memberikan catatan negatif terhadap seorang frater, Mgr Suharyo biasanya mengatakan demikian: “Saya kok punya kesan frater ini seperti ini…, saya senang kalau kesan saya ini salah,” ujar Romo Purwatma. Menurut Romo Purwatma, imamat dihidupi Mgr Suharyo dengan tekun dan setia, murah hati dalam pelayanan. Homili dan renungan Mgr Suharyo sangat inspi ratif.

“Mgr Suharyo juga sopir yang handal,” ujar Romo Purwatma kala dihubungi via telepon oleh HIDUP. Tahun 1985, lanjut Romo Purwatma, Romo Suharyo mengajak satu angkatan imam muda yang baru ditahbiskan berlibur ke Bromo dan Bali dengan mobil keluarganya. “Romo Suharyo sendiri yang menyopir tanpa ada yang menggantikan. Sekarang pun kalau pulang ke Yogyakarta, ia kadangkala menyopir sendiri. Kalau di Jakarta tidak bisa,” ungkap Romo Purwatma.

Penyelenggaraan Ilahi
Sikap rendah hati dan kesetiaan dalam penghayatan imamat terus dihidupi Mgr Suharyo dalam setiap tugas perutusan yang dijalani. Pun ketika ia ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang pada 21 April 1997 dan ditahbiskan pada 22 Agustus 1997. Ketika itu ia mengambil moto tahbisan Serviens Domino Cum Omni Humilitate (Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati, Kis 20:19). Uskup Ordinariat Militer sejak 2 Januari 2006 hingga kini pun terus menghidupi tugas perutusannya dengan semangat pelayanan penuh kerendahan hati.

Ketua UNIO KAJ sekaligus Ketua Pusat Pastoral KAJ, Romo Yustinus Ardianto mengatakan bahwa imamat bagi Mgr Suharyo adalah penyelenggaraan ilahi. Semula ia ingin menjadi polisi, sedangkan kakaknya yang lain ingin menjadi imam. Malah ia yang mengatakan awalnya “saya tidak”, justru akhirnya ditahbiskan menjadi imam bahkan menjadi uskup.

Menurut Pastor Paroki Kalvari, Lubang Buaya ini ada beberapa hal dihayati Mgr Suharyo dan patut diteladan oleh para imam. “Di dalam imamat dan tentu penggembalaannya sebagai Uskup, saya menemukan intelektualitas sekaligus kesalehan rohani; pembaruan sekaligus tradisionalisme, kerapian manajemen dan juga kemurahan pastoral; ketegasan sekaligus kelembutan, kesibukan pelayanan sambil tetap punya waktu pribadi untuk berolahraga atau membaca buku; mistik dan politik, ajaran sosial gereja dan Pancasila. Semua ada dalam penghayatan imamatnya. Dan saya kira itu menjadi warisan berharga buat kita, Gereja KAJ dan juga Gereja Indonesia.”

Maria Pertiwi
Laporan: A. Nendro Saputro dan A. Aditya Mahendra

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 5 Tanggal 31 Januari 2016

 

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*