Artikel Terbaru

Pasrah Kepada Kehendak Allah

Pasrah Kepada Kehendak Allah
Mohon Beri Bintang

Sebelum ditahbiskan menjadi imam, apakah Monsinyur pernah mengalami pasang surut panggilan?
Hidup saya itu datar, tidak pernah sungguh-sungguh gembira, tetapi sungguh-sungguh sedih juga tidak pernah. Saya kadang iri. Orang lain bisa tertawa terbahak-bahak, sedih terharu-terharu tetapi saya tidak bisa seperti itu. Momen-momen luar biasa itu memang anugerah khusus. Dari pengalaman dan refleksi pribadi, saya yakin Tuhan bekerja dalam hal yang sangat biasa dan datar-datar saja. Di dalam yang biasa-biasa itu, di situ Tuhan berkarya, di situ Tuhan menyampaikan rencana-Nya. Kita memang harus pandai membaca kehendak Tuhan.

Melihat krisis panggilan di Eropa, apa tanggapan Mosinyur?
Pertanyaannya sederhana tapi jawabannya kompleks. Sejak awal sejarah umat manusia, sudah terjadi proses sekularisasi. Sekarang semakin memuncak dan kompleks. Kenapa sejak awal? Sebab, sudah diceritakan dalam Kitab Kejadian tentang kisah Kain dan Habel. Ceritanya kita semua tahu, persembahan Kain tidak diterima, sedangkan persembahan Habel diterima. Dalam satu kalimat mengatakan, Habel adalah pengembara, Kain adalah petani. Rumusannya hanya seperti itu, tetapi hal itu merupakan cermin suatu proses perkembangan budaya. Habel mewakili masyarakat pengembara yang tidak pernah pasti masa depannya. Sebagai pengembara kepercayaan Habel kepada Tuhan lebih kuat.

Lain dengan Kain yang seorang petani yang bisa merencanakan masa depan. Mau tanam apa dan disimpan berapa hasilnya bisa diatur. Mereka bisa mengatur sesuai musim. Ketika orang bisa merencanakan masa depannya sendiri, kepercayaannya kepada Allah cenderung menurun. Di situlah proses sekularisasi terjadi. Allah semakin ditinggalkan karena manusia mampu merencanakan masa depannya. Manusia bisa apa saya sekarang? Yang belum bisa hanyalah membuat kehidupan. Ketika proses sekularisasi itu berkembang, Allah tidak lagi diberi tempat dan dipinggirkan.

Jika dibandingkan dengan zaman saya ketika kecil, orangtua pada zaman dulu melihat anak-anak merupakan titipan dan menyerahkan panggilannya kepada Allah. Sementara orang zaman sekarang lain. Mereka merencanakan punya anak, dibiayai sekolahnya dan diminta melanjutkan usaha orangtuanya. Pada akhirnya, anak susah untuk mencari jalan sendiri.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*