Artikel Terbaru

St Regina: Dihukum Mati oleh Ayahnya Sendiri

St Regina: Dihukum Mati oleh Ayahnya Sendiri
3 (60%) 2 votes

Pada suatu malam, Regina sayup-sayup mendengar bisikan lembut di telinganya, “Kamu akan segera bebas dari penjara.”

Sekonyong-konyong, seisi selnya dipenuhi cahaya terang benderang. Keesokan harinya, wajah Regina nampak bercahaya dan bertambah cantik parasnya. Itulah hari pengadilan bagi Regina.

Ayahnya sudah duduk menunggu di kursi penghakiman. Klemens masih membujuk putrinya agar mau menerima pinangan Olybrius dan menikah dengan Prefek Galia itu. Ia minta agar Regina mau menjadi istri Olybrius dan tetap bebas menjalankan agama Kristen. Lagi-lagi, Regina hanya menatap sendu ayahnya dan menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan.

Melihat kekerasan hati putrinya, Klemens merasa jengkel. Ia lalu menyuruh penjaga menyiksa dan menjebloskannya kembali ke penjara. Orang-orang yang menyaksikan jalannya persidangan berseru-seru sembari membujuk Regina untuk menuruti kata Klemens. Namun, Regina tetap bergeming.

Keesokan harinya, Regina kembali diarak ke pengadilan. Betapa heran khalayak melihat gadis itu. Luka-lukanya telah sembuh, bahkan kulitnya lebih bersih dan bersinar. Mereka saling bercakap dan mengira bahwa Regina adalah anak kesayangan para dewa.

Sidang berlangsung seperti sebelumnya. Klemens memutuskan Regina dijatuhi hukuman mati dengan dipenggal kepala. Saat hendak dipenggal kepalanya, nampaklah seekor burung merpati putih dengan cahaya kemilau hinggap di atas kepalanya. Banyak orang menyaksikan peristiwa itu. Mereka yang melihat itu mengakui kesucian Regina. Ia wafat sebagai martir. Darahnya menyuburkan benih iman yang ditebar di hati umat Perancis.

Penghormatan kepada Regina berlangsung pasca wafatnya. Devosi ini dikukuhkan Paus Gregorius I (540-604), yang meresmikan Regina sebagai orang kudus. Tahun 827, jenazah St Regina dipindahkan ke gereja di Pertapaan Flavigny, Perancis. Banyak terjadi mukjizat kesembuhan berkat perantaraan doa St Regina. Makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang yang memohon kesembuhan, terutama bagi yang terkena penyakit kulit. Gereja menghormatinya tiap 7 September.

Marchella A. Vieba/R.B.E. Agung Nugroho

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 5 Tanggal 31 Januari 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*