Artikel Terbaru

Veronica Anys Dewanti: Sampai Tuhan Menghentikan

Veronica Anys Dewanti: Sampai Tuhan Menghentikan
1 (20%) 1 vote

Saat sedang membersihkan gudang, ia kejatuhan bubuk bambu. Ia naik ke balkon dan mendapati angklung dalam kondisi lapuk. Tak jauh dari posisi angklung itu, ia juga melihat kolintang. Dari bentuk, kata Anis, kolintang itu sepertinya jarang tersentuh tangan.

Ia meminta izin kepala sekolah untuk membongkar alat musik itu. Begitu restu didapat, Anis dan office boy (OB) menurunkan dan membersihkan angklung serta kolintang. Hanya bermodal kemampuan menekan tuts keyboard, istri Didimus Antonius M.A. Jone itu menjajal dua jenis alat musik tersebut. Tak dinyana, Anis berhasil memainkan angklung dan kolintang.

Ia mengajak satpam dan OB untuk memainkan alat musik itu. Anis memberi komando kepada mereka dengan jarinya. Percobaan itu lagi-lagi berhasil. Bersama mereka, Anis membentuk kelompok bernama Sholawat. “Nama kelompok itu diambil dari lagu pertama, Sholawat Badar, yang berhasil kami mainkan,” ungkapnya sembari tersenyum.

Anis juga melatih para guru dan siswa di sana. Mereka pun berhasil memainkan alat musik tradisional itu. Angklung dan kolintang akhirnya membawa para siswa di lembaga pendidikan milik para suster dari Tarekat Pauperis Infantis Jesu (PIJ) menggondol penghargaan dari sejumlah kompetisi.

Menyapa Semua
Seni adalah bahasa universal yang mampu menyapa semua golongan. Seni juga sanggup mendobrak sekat-sekat perbedaan agama, sosial, ekonomi, bahasa, dan fisik. Anis sungguh mengamini pendapat itu. Toh ia sudah membuktikan, angklung dan kolintang menjadi “jembatan” relasi antara ia dengan satpam dan OB, yang beda keyakinan dengannya.

Berhenti dari Sekolah Sang Timur, Anis sempat dua tahun melatih angklung bagi anak-anak di SLB Cahaya Pertiwi, Bekasi. Anak didik alumna Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan di IKIP Negeri Yogyakarta adalah penyandang tunarungu dan tunawicara.

Anis mengakui, tak mudah melatih mereka. Umat Paroki St Albertus Agung Harapan Indah, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ini mengenang masa bersama anak-anak istimewa itu. Suatu hari, Anis merasa bahagia karena anak-anak di sana akhirnya mampu memainkan angklung. “Bagus kan (suara angklung-Red)?” tanya Anis kepada mereka. Seluruh kelas senyap. Tak ada satu pun anak didiknya yang menjawab. Mereka hanya memandang Anis dengan bingung. Ia kaget dan sadar, anakanaknya tak mendengar musik indah yang mereka mainkan. Anis keluar kelas, ia buru-buru menyelinap ke toilet dan menumpahkan segala duka di hatinya. “Tuhan, mengapa saya mengalami hal seperti ini?” keluhnya.

 

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*