Artikel Terbaru

Beato Stefan Wincenty Frelichowski: Musafir Kamp Konsentrasi

Beato Stefan Wincenty Frelichowski: Musafir Kamp Konsentrasi
Mohon Beri Bintang

Uskup Chelmno waktu itu, Mgr Stanislaw Wojciech Okoniewski (1870-1944) mendaulatnya sebagai Ketua Kepanduan Dewasa dan Pendamping Rohani Gerakan Kepanduan Distrik. Pastor Frelichowski dipilih karena keterlibatannya yang intens di Pramuka, serta fokus pastoralnya di tengah orang muda. Selain itu, Mgr Okoniewski menugaskan imam muda ini sebagai Pastor Rekan Paroki St Maria Perawan Tak Bernoda, Toruniu. Di sana, ia juga mengelola media Paroki.

Selain Pramuka, Pastor Frelichowski juga sempat bergabung di Temperance Movement. Ini merupakan gerakan sosial menentang distribusi dan konsumsi alkohol yang lahir di Amerika pada abad XIX. Belakangan gerakan ini berkembang ke sejumlah negara di Eropa. Anggota Temperance Movement pantang minum minuman keras. Mereka tak henti mendesak pemerintah agar mengeluarkan larangan soal itu.

Tak hanya giat di ranah publik, Pastor Frelichowski juga langkas “bermain” di dalam pagar Gereja. Ia pernah bergabung dengan Kongregasi Maria di Chełmza dan menjadi misdinar saat masih belia. Rasanya wajar jika anak pembuat dan pemilik toko roti ini dekat dengan lingkungan Gereja. Mereka tak pernah absen Misa saban Minggu.

Tradisi kekatolikan juga mengakar kuat dalam keluarga Frelichowski. Salah satu ruangan di rumah mereka dikhususkan sebagai tempat doa. Di sana, seluruh anggota keluarga mendaraskan Vesper (Ibadat Petang) setiap hari. Tiap Jumat pertama, mereka berdevosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus. Saat Masa Prapaskah, Frelichowski sekeluarga merenungkan kisah sengsara Yesus. Tak pelak praktik keutamaan kristiani begitu kuat dalam keluarga ini.

Berpindah-Pindah
Suasana damai di Polandia mulai terusik kala tentara Jerman menginvasi negara itu pada 1 September 1939. Tak hanya melebarkan pengaruh dan sayap kekuasaan, Jerman juga mengebiri kebebasan beragama. Banyak gereja hancur, aktivitas peribadatan dilarang, dan tak sedikit para pelayan pastoral yang “didepak” ke kamp konsentrasi hingga meregang nyawa di sana; tak terkecuali Pastor Frelichowski.

Pada hari kesepuluh Jerman menginjakkan kaki di negara berjuluk “Elang Putih” itu, mereka menciduk Pastor Frelichowski. Meski sempat dibebaskan beberapa hari, mereka kembali menggiringnya ke dalam kamp konsentrasi. Sejak itu, hidupnya dihabiskan di balik jeruji dan tembok kurungan, dari satu kamp ke kamp lain. Dari Fort VIII, ia digelandang ke Nowym Porci, Stutthof, Sachsenhausen-Oranienburg, dan terakhir Dachau. Pastor Frelichowski bagai musafir. Ia mengembara dari satu kamp ke kamp lainnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*