Artikel Terbaru

Jumper Selalu Dinanti

Jumper Selalu Dinanti
Mohon Beri Bintang

Keterbatasan Romo
Kendati manajemen sudah memfasilitasi tempat, kendala masih tetap ada, yakni pelayanan tenaga pastoral, terutama Romo untuk memimpin perayaan Ekaristi. Di Mayapada Tower, Robert mengakui bahwa untuk mencari Romo sangat susah. Selain sedikitnya Romo yang bisa datang memimpin Misa, juga terkendala perubahan di last minute; entah karena sakit, terjebak macet, atau malah sedang di luar negeri, dan tidak bisa tiba tepat waktu. Ini tidak jauh beda dengan Misa Jumper di Perkantoran Arkadia. Meski sudah diantisipasi dengan ngasih jadwal kepada Romo enam bulan sebelumnya, selalu saja ada halangan. Tapi mereka masih berbangga, karena dua tahun terakhir, Misa Rabu Abu di Perkantoran Arkadia dipimpin Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta dan Uskup Weetebula Mgr Edmund Woga CSsR. “Misa dengan Uskup seperti Misa dengan Tuhan,” kelakar Arii Bowo.

Hal serupa terjadi juga di Plaza Kuningan. Meski punya banyak kenalan Romo, kadang kalah cepat karena sudah lebih dahulu “dipesan”. “Banyak kantor yang mengadakan Misa Jumper. Sementara tenaga Romo terbatas. Sekarang kami sudah punya daftar Romo untuk enam bulan ke depan,” kata Hektor.

Situasi yang lebih beruntung dialami karyawan Katolik di SCBD. Soal Romo tak ada kendala. Kebanyakan karyawan yang bekerja di SCBD berasal dari Paroki-paroki terdekat. Ini memungkinkan mereka dengan cepat mendapat Romo. Selain itu, keuntungan lain adalah SCBD memiliki Romo moderator, yaitu Romo Rudy Hartono. Ketika tak ada lagi jalan mendapatkan Romo, koordinator mengontak Romo Rudy dan meminta bantuan tenaga imam.

Perjumpaan
Jumat pertama November lalu, di Plaza Kuningan dan karyawan Katolik Mayapada mengadakan Jumper. Biasanya yang hadir jauh lebih banyak. Tapi karena sedang ada aksi demonstrasi di Jakarta, sebagian pekerja memilih pulang. “Mungkin juga karena hari ini ada demo, jadi yang datang sedikit,” ujar pengurus Jumper KKD Theresia Susanti Santoso.

Misa Jumper juga jadi kesempatan bagi para pekerja Katolik untuk berjumpa. Dalam perjumpaan itu diharapkan mereka saling mengenal dan meneguhkan dalam iman. Lewat persahabatan, sharing pengalaman bekerja, dan doa, membuat para pekerja Katolik terus termotivasi. “Di kantor, ketika orang sibuk dengan pekerjaan, Misa Jumper lah yang menyatukan kami,” ujara Theresia Titi. Karena itu kegiatan rutin ini selalu dinanti.

Tak dipungkiri pula bahwa banyak karyawan menggunakan kegiatan Misa Jumper untuk belajar berorganisasi, sekaligus berbicara di depan banyak orang. “Banyak orang Katolik sangat awam ketika disuruh membaca Kitab Suci atau memimpin doa. Di Misa Jumper kami belajar berani memimpin doa ,” ujar Arii Bowo.

Yustinus H. Wuarmanuk
Laporan: Stefanus P. Elu/Marchella A. Vieba/Christophorus Marimin

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 49 Tanggal 4 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*