Artikel Terbaru

Kardinal Ernest Simoni: Martir Hidup Albania

Kardinal Ernest Simoni: Martir Hidup Albania
1 (20%) 1 vote

Melihat Pastor Simoni tak kunjung dieksekusi, tentara mencari cara lain untuk menjatuhkan hukuman mati. Mereka mengirim seorang tahanan untuk memancing kemarahan Pastor Simoni kepada Partai Komunis. Tahanan itu dibekali alat perekam. Alih-alih terpancing, Pastor Simoni justru mengeluarkan pernyataan yang sama sekali tak ada di benak mereka. Ia tak marah apalagi mengutuk perlakuan keji yang dialami. Sebaliknya, Pastor Simoni justru mengasihi dan mengampuni mereka, seperti yang Kristus ajarkan kepadanya. Ia yakin, masih ada kebaikan dalam diri mereka yang menahan dan menyiksanya. Kata-kata itu mengganti sanksinya dari hukuman mati menjadi kerja paksa di tambang selama 25 tahun.

Berada dalam bui, Pastor Simoni tetap menjalankan karya pastoral. Ia menjadi pendamping rohani bagi para tahanan, mendengar pengakuan dosa, merayakan Ekaristi bersama tahanan, dan membagikan Hosti Suci untuk umatnya di penjara. Semua itu ia lakukan dengan diamdiam. Bila situasi tak kondusif, ia Misa dalam hati. “Tuhan membantu saya untuk melayani banyak orang. Dia juga menolong saya untuk mengusir kebencian dalam hati manusia,” katanya.

Pastor Simoni bebas lebih cepat dari putusan atasnya. Ia mendekam dalam tahanan selama 18 tahun. Meski sudah menghirup udara bebas, Pastor Simoni belum leluasa melayani umat. Kebebasan beribadat dan menjalani tugas kegembalaan mulai dirasakan pada 1990, seiring kejatuhan rezim komunis.

Hidup Kedua
Bebas dari penjara, Pastor Simoni total mempersembahkan “hidup keduanya” untuk karya pewartaan dan pastoral. Ia begitu bersemangat, meski usia telah senja dan raganya terlihat layu, keluar-masuk kampung untuk mendengar pengakuan dosa, merayakan Misa, dan membagikan Komuni kepada umat.

Saking bersemangat, Uskup Agung Shkodrë-Pult Mgr Angelo Massafra OFM menasihati imamnya, “Istirahatlah sekarang, Pastor.” Mgr Massafra sadar, banyak penderitaan yang ia bawa di pundaknya. Bagi Pastor Simoni, tak ada kata pensiun bagi seorang imam dan karyanya. “Mencintai dan mengampuni setiap hari, membantu orang-orang miskin dan yatim piatu secara fisik dan materi,” ujarnya.

Banyak orang bertanya kepada dia mengapa bisa bertahan hidup, pantang menyerah, dan memaafkan semua pelaku kekerasan. Sambil tersenyum, Pastor Simoni mengungkapkan, ia tak melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya pasrah, berdoa kepada Yesus, dan selalu berbicara dengan-Nya. Mungkin karena teladan iman dan keutamaan hidup inilah, Paus Fransiskus menyebut dia, “Martir Albania”.

Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 49 Tanggal 4 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*