Artikel Terbaru

St Auguste Chapdelaine PIME (1814-1856): Martir Tiongkok, Patron “Panggilan Terlambat”

St Auguste Chapdelaine PIME (1814-1856): Martir Tiongkok, Patron “Panggilan Terlambat”
4 (80%) 8 votes

Perjalanan laut waktu itu amat menantang. Badai dan gelombang pasang membuat kapal terombang-ambing. Mereka menempuh rute panjang melalui Brazil, Afrika Selatan, Australia, Singapura, dan Kepulauan Nusantara (Jawa dan Kalimantan). Mereka baru berlabuh di Macau pada 25 Desember 1852. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan ke Hongkong.

Dua tahun kemudian, Pastor Auguste bersama dua katekis awam, Jerome dan Lu Tingmei melayani umat di Yaoshan. Ada sekitar 300 umat Katolik di wilayah yang berada di Provinsi Guangxi itu. Pastor Auguste merayakan Misa perdana di sana. Baru sepuluh hari di Tiongkok, Pastor Auguste ditangkap di Su Lik Hien. Ia dijebloskan ke dalam bui dan mendekam selama tiga minggu. Penguasa setempat sangat keras melarang orang asing masuk ke wilayah mereka, apalagi mengajarkan kekristenan.

Bebas dari penjara, Pastor Auguste pergi ke Guizhou dan kembali ke Guangxi. Ratusan penduduk yang simpatik dengan karyanya meminta sang gembala untuk membaptis mereka. Kejadian itu menuai antipati dari seorang warga. Pastor Auguste dilaporkan, ditangkap, dan diganjar hukuman mati. Selama berada di dalam kerangkeng, sang imam mendapat siksaan keji layaknya binatang. Kulitnya diiris hingga kepalanya dipancung pada 29 Februari 1856.

Aneka Tuduhan
Dekrit kemartiran Pastor Auguste ditandangani pada 2 Juli 1899 oleh Paus Leo XIII. Paus yang sama membeatifikasinya selang hampir setahun kemudian. Pada 1 Oktober 2000, Bapa Suci Yohanes Paulus II mengkanonisasi Beato Auguste bersama sejumlah martir di Tiongkok. Upacara kanonisasi di Vatikan ternyata berbarengan dengan peringatan ulang tahun Republik Rakyat Tiongkok.

Surat kabar Partai Komunis gusar dengan peristiwa itu. Vatikan, tulis media itu, mengkanonisasi imam yang menjadi penjahat, mata-mata asing, dan pelaku tindakan asusila. Tanggapan berbeda disampaikan sejarahwan dan guru besar Universitas Guangzhou, Yuan Weishi. Kata Weishi, pembunuhan Chapdelaine adalah kejahatan Dinasti Qing dan menjadi tragedi yang memalukan bagi Tiongkok. “Mereka pikir tindakan itu sebagai bentuk patriotisme, tetapi justru salah dan bodoh,” tandasnya. St Auguste menjadi patron untuk mereka yang “terlambat” atau “tertunda” menjalani panggilan khusus sebagai klerus. Gereja mengenangnya setiap 29 Februari atau 28 September, bersama para martir Tiongkok lainnya.

Yanuari Marwanto

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 49 Tanggal 4 Desember 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*